Sederhana, tapi di lapangan terasa seperti permintaan upgrade dari motor standar ke spek pabrikan—yang entah kapan masuk daftar prioritas.
Di luar ruangan itu, tidak ada kemewahan visual pendidikan modern. Tidak ada perpustakaan dengan rak tinggi atau UKS dengan ruang steril. Yang ada hanya satu ruang yang menampung semua fungsi, seperti sirkuit kecil yang dipaksa jadi tuan rumah semua kelas balap.
Namun justru di situ letak ironi paling tajam.
Bahwa pendidikan sering diminta “bersaing global”, tapi sebagian sekolah masih hidup di level “local track tanpa pit building”.
Seperti balapan tanpa pit stop, semua harus bertahan sampai akhir dengan kondisi yang sama sejak start. Tidak ada ganti ban, tidak ada setting ulang, tidak ada upgrade di tengah race.
Dan ketika lomba selesai, selalu ada satu kalimat yang sama dari sistem: evaluasi.
Padahal di Babbanulo, yang lebih dibutuhkan bukan evaluasi, tapi perluasan lintasan.
Sebab tidak semua keterlambatan adalah soal kemampuan. Kadang, itu hanya soal tidak pernah diberi motor yang seharusnya mereka pakai sejak awal.(*)
