Enrekang, Katasulsel.com — Ada daerah yang mudah dikenali dari pantainya. Ada yang dikenal karena sawahnya. Ada pula yang begitu lekat dengan pegunungan hingga bentang alamnya seperti menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Enrekang termasuk di antaranya.

Di antara lereng dan lembah, sawah dan perkebunan, tumbuh sebuah masyarakat dengan sejarah yang panjang. Mereka mengenal dirinya sebagai bagian dari Massenrempulu.

Bagi orang yang baru mendengar nama itu, Massenrempulu mungkin terdengar seperti nama wilayah biasa.

Padahal, di baliknya ada cerita tentang kerajaan, persekutuan, bahasa, kebudayaan, dan masyarakat yang selama berabad-abad membangun kehidupan di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan.

Massenrempulu bukan sekadar nama yang diwariskan dari masa lalu. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat Enrekang mengenali ruang hidup dan identitas mereka.

Ketika Pegunungan Menjadi Bagian dari Kehidupan

Memandang Enrekang berarti berhadapan dengan bentang pegunungan yang tidak sekadar menjadi latar.

Di antara lereng, masyarakat membangun permukiman, mengolah lahan, menanam berbagai komoditas, dan membesarkan keluarga.

Karena itu, ketika berbicara tentang Massenrempulu, kita tidak cukup hanya membicarakan sebuah istilah.

Di balik nama tersebut ada manusia.

Ada keluarga yang hidup di tengah pegunungan. Ada petani yang menggantungkan kehidupan pada tanah. Ada generasi muda yang tumbuh dengan bahasa dan kebudayaan daerahnya, lalu sebagian di antaranya merantau ke luar daerah.

Pegunungan menjadi ruang hidup. Ruang hidup kemudian membentuk pengalaman. Dari pengalaman yang diwariskan itulah identitas tumbuh.

Dari Pitu Massenrempulu hingga Lima Massenrempulu

Sejarah Massenrempulu memiliki perjalanan yang panjang.

Sejumlah kajian sejarah mencatat adanya Pitu Massenrempulu, sebuah persekutuan yang terdiri atas tujuh kerajaan atau wilayah. Salah satu sumber sejarah mencatat tujuh kerajaan tersebut meliputi Endekan, Kassa, Batu Lappa, Duri, Maiwa, Letta, dan Baringin.

Dalam perkembangannya, susunan tersebut berubah. Sekitar abad ke-17, istilah Pitu Massenrempulu kemudian berkembang menjadi Lima Massenrempulu. Sumber sejarah mencatat perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan posisi sejumlah kerajaan dalam persekutuan.

Sejarah itu menunjukkan bahwa Massenrempulu bukan identitas yang muncul begitu saja.

Ia tumbuh dari hubungan antarkerajaan dan masyarakat yang mendiami kawasan tersebut.

Karena itu, ketika nama Massenrempulu digunakan sampai sekarang, yang dibawa bukan hanya sebuah sebutan.

Ada lapisan sejarah yang panjang di belakangnya.

Tiga Bahasa yang Hidup dalam Massenrempulu

Menariknya, masyarakat Massenrempulu juga tidak sepenuhnya seragam.

Kajian mengenai bahasa Massenrempulu menyebut adanya tiga bahasa utama yang berkembang di Kabupaten Enrekang, yakni bahasa Duri, Enrekang, dan Maiwa. Ketiganya berkembang di wilayah yang berbeda dan memiliki kosakata, dialek, serta aksen masing-masing.

Bahasa Duri, misalnya, digunakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah seperti Baraka, Anggeraja, Malua, Curio, dan Alla. Bahasa Enrekang berkembang di kawasan Enrekang dan Cendana, sementara bahasa Maiwa digunakan terutama di wilayah Maiwa dan kawasan perbatasan Sidrap.

Artinya, Massenrempulu tidak dibangun dari keseragaman.

Ada perbedaan bahasa. Ada perbedaan wilayah. Ada karakter kebudayaan masing-masing.

Namun, semuanya tumbuh dalam satu ruang sejarah yang saling berhubungan.

Keragaman tersebut justru menjadi bagian dari kekayaan Massenrempulu.

Identitas yang Tidak Tinggal di Masa Lalu

Enrekang hari ini tentu bukan lagi Enrekang pada masa kerajaan.

Jalan semakin terbuka. Teknologi berkembang. Anak-anak muda menempuh pendidikan lebih jauh. Sebagian masyarakat meninggalkan kampung halaman untuk bekerja atau membangun kehidupan di daerah lain.

Namun, perubahan tidak selalu berarti kehilangan identitas.

Nama Massenrempulu masih digunakan dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat Enrekang. Ia tetap hadir dalam kebudayaan, bahasa, organisasi masyarakat, dan sejumlah institusi daerah.

Bahkan, nama Massenrempulu masih menjadi bagian dari identitas kelembagaan di Kabupaten Enrekang.

Ini menunjukkan bahwa identitas tidak harus membeku untuk dapat bertahan.

Ia dapat berubah mengikuti zaman.

Bahasa dapat berkembang. Kebiasaan dapat beradaptasi. Generasi baru dapat memiliki pengalaman yang berbeda dari orang tua mereka.

Tetapi cerita mengenai asal-usul tetap dapat diwariskan.

Dari Gunung, Bahasa, hingga Orang-Orang yang Merantau

Di sinilah Massenrempulu menjadi lebih dari sekadar cerita sejarah.

Ia memperlihatkan bagaimana manusia membangun hubungan dengan tempat tinggalnya.

Gunung menjadi ruang hidup.

Bahasa menjadi alat untuk menjaga hubungan sosial.

Sejarah menjadi ingatan bersama.

Dan nama Massenrempulu menjadi salah satu penanda yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan hari ini.

Orang boleh pergi meninggalkan Enrekang.

Tetapi bukan berarti seluruh cerita tentang Enrekang ikut ditinggalkan.

Sebagian dibawa melalui bahasa. Sebagian melalui keluarga. Sebagian melalui kebiasaan. Dan sebagian lagi cukup melalui sebuah nama yang terus disebut dari generasi ke generasi.

Massenrempulu.

Enrekang Punya Cerita yang Lebih Panjang dari Sekadar Pemandangan

Barangkali itu sebabnya Enrekang tidak cukup diceritakan hanya melalui pegunungannya.

Di balik pemandangan ada kehidupan. Di balik kehidupan ada kebudayaan. Di balik kebudayaan ada sejarah. Dan di balik sejarah ada manusia yang terus membuatnya hidup.

Massenrempulu pernah menjadi bagian dari perjalanan kerajaan-kerajaan di kawasan tersebut. Kini, jejaknya dapat ditemukan dalam bahasa, kebudayaan, identitas masyarakat, hingga kehidupan Enrekang yang terus bergerak mengikuti zaman.

Maka, ketika nama Massenrempulu disebut, yang muncul bukan hanya sebuah istilah yang terdengar asing bagi orang luar.

Ada Enrekang di sana. Ada pegunungan. Ada bahasa Duri, Enrekang, dan Maiwa. Ada sejarah kerajaan. Ada keluarga yang tinggal dan bekerja di tengah bentang alam itu. Ada pula generasi yang mungkin pergi jauh, tetapi tetap membawa ingatan tentang tempat asalnya.

Sebab kampung halaman tidak selalu berupa titik yang dapat ditemukan di peta.

Kadang, kampung halaman hidup dalam bahasa yang masih digunakan, dalam nama yang masih disebut, dan dalam cerita yang terus diceritakan meski orang-orangnya telah berjalan jauh.

Dan di antara pegunungan Enrekang, cerita itu bernama Massenrempulu.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini