Sidrap, katasulsel.com – Di tengah hamparan sawah Kelurahan Arateng, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, para petani tidak sedang berbicara soal teori. Mereka sedang mengunci nasib musim tanam berikutnya.
Di Sanggar Tani Kelompok Tani Latettong, Selasa (16/06/2026), suasana Tudang Sipulung berlangsung padat makna. Babinsa Arateng, Sertu Sudirman, ikut duduk bersama Camat Tellu Limpoe H. Ridwan Bahtiar, Kabid PSDA Sidrap H. Abd. Rahman, konsultan irigasi, penyuluh, hingga para petani yang sehari-hari berjibaku dengan air dan tanah.
Yang dibahas bukan hal kecil: kapan air ditutup, kapan tanah mulai diolah, dan bagaimana memastikan musim tanam tidak gagal di tengah ketergantungan pada irigasi Saddang.
Di forum itu disepakati penutupan pintu air irigasi Saddang oleh PSDA dijadwalkan 1 Oktober 2026. Lalu, benih padi diarahkan berumur sekitar 100 hari agar selaras dengan pola tanam. Pengolahan lahan ditetapkan mulai minggu kedua hingga ketiga Juli 2026. Termasuk satu poin krusial: perbaikan saluran irigasi sepanjang 300 meter yang harus disokong gotong royong kelompok tani agar pekerjaan teknis dari dinas bisa berjalan tanpa hambatan.
Di lapangan, Tudang Sipulung ini bukan sekadar rapat. Ia semacam “ruang kontrol sosial” di mana petani memastikan air tidak datang terlambat dan tidak pergi terlalu cepat.
Sertu Sudirman menyebut kehadiran Babinsa bukan formalitas. Di wilayah seperti Arateng, irigasi bukan sekadar infrastruktur, tapi urat hidup ekonomi warga.
“Kalau air dan jadwal tanam tidak sinkron, yang rugi petani,” begitu kurang lebih pesan yang mengemuka dalam forum itu.
Di akhir pertemuan, tidak ada tepuk tangan. Tapi ada kesepakatan yang jauh lebih penting: musim tanam harus jalan dengan satu komando bersama. Sebab di sawah Sidrap, kekacauan kecil di jadwal air bisa berubah jadi kerugian besar di panen. (*)
