Sidrap, katasulsel.com — Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang bagi Puang Suarni. Di usia 70 tahun, perempuan lanjut usia asal Desa Tonrongnge, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) itu hanya ingin beristirahat bersama keluarga kecilnya.
Namun takdir berkata lain.
Sekitar pukul 23.30 WITA, Senin (27/7/2026), rumah panggung yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduhnya keluarga itu berubah menjadi lautan api.
Dalam hitungan menit, kenangan yang tersimpan di setiap sudut rumah perlahan lenyap ditelan kobaran.
Malam itu, Puang Suarni tidur bersama putrinya, Ana, serta dua cucunya. Mereka tak menyadari bahwa bahaya sedang mengintai.
Ana tiba-tiba terbangun karena mencium bau asap yang tidak biasa. Semakin lama, aroma menyengat itu semakin pekat memenuhi ruangan.
Saat membuka mata dan mencari sumbernya, jantungnya seketika berdegup kencang.
Api sudah terlihat.
Tanpa sempat berpikir panjang, ia langsung membangunkan ibunya yang sudah lanjut usia.
“Bangun, Bu… ada api!” teriaknya panik.
Dalam suasana yang serba kacau, Ana berusaha tetap tenang. Ia menggandeng sang ibu, memastikan kedua anaknya ikut keluar dari rumah.
Mereka berlari meninggalkan bangunan yang selama ini menjadi tempat berkumpul keluarga.
Tak ada waktu menyelamatkan harta benda.
Tak ada kesempatan membawa pakaian, dokumen penting, ataupun barang-barang berharga lainnya.
Yang terpenting saat itu hanyalah nyawa.
Beberapa saat setelah seluruh penghuni berhasil keluar, Ana berteriak meminta pertolongan warga.
Suara teriakannya memecah sunyi malam Desa Tonrongnge.
Lampu-lampu rumah warga mulai menyala. Satu per satu warga berdatangan. Ada yang membawa ember, ada yang membawa alat seadanya.
Mereka berusaha membantu.
Namun kobaran api bergerak lebih cepat.
Rumah panggung berbahan kayu itu menjadi santapan empuk si jago merah. Dalam waktu singkat, api menjalar ke seluruh bagian bangunan.
Dari kejauhan, Puang Suarni hanya bisa menyaksikan rumahnya perlahan runtuh.
Rumah itu bukan sekadar bangunan.
Di sanalah ia membesarkan anak-anaknya.
Di sanalah cucu-cucunya tumbuh.
Di sanalah tersimpan berbagai kenangan hidup yang tidak bisa dihitung dengan uang.
Malam itu, semuanya hilang.
Warga yang berada di lokasi mengaku ikut merasakan kesedihan mendalam melihat kondisi sang nenek.
Beberapa berusaha menenangkan Puang Suarni yang tampak terpukul melihat kobaran api menghanguskan rumahnya.
Tak lama kemudian, tiga unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Petugas langsung bergerak melakukan pemadaman agar api tidak merembet ke rumah warga lainnya yang berada di sekitar lokasi.
Setelah berjibaku selama puluhan menit, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 00.20 WITA, Selasa (28/7/2026).
Meski tidak ada korban jiwa, kerugian yang ditinggalkan kebakaran itu sangat besar.
Satu unit rumah panggung hangus tanpa sisa. Sebuah sepeda motor dan satu unit traktor milik keluarga juga ikut terbakar.
Nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp300 juta.
Namun bagi Puang Suarni, kehilangan terbesar bukan hanya soal angka.
Ia kehilangan tempat yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidupnya.
Rumah sederhana yang dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun itu kini hanya menyisakan puing-puing arang dan kepulan asap.
Di tengah kesedihan itu, warga Desa Tonrongnge menunjukkan wajah kemanusiaan yang menghangatkan.
Sejak api berhasil dipadamkan, sejumlah warga tetap bertahan di lokasi. Ada yang membantu membersihkan sisa kebakaran, ada pula yang memberikan dukungan moral kepada keluarga korban.
Solidaritas itulah yang sedikit mengobati duka di tengah musibah.
Sementara itu, berdasarkan informasi awal di lokasi, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik. Dugaan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Musibah yang menimpa Puang Suarni menjadi pengingat bahwa dalam sekejap, seseorang bisa kehilangan seluruh harta bendanya.
Namun di balik kobaran api yang meluluhlantakkan rumah itu, masih ada satu hal yang tersisa dan patut disyukuri.
Empat nyawa berhasil selamat.
Dan bagi seorang ibu berusia 70 tahun, melihat anak dan cucunya tetap berada di sisinya mungkin menjadi harta paling berharga yang tidak bisa dibakar oleh api.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
