Meski demikian, Prof. Nadiarti memberi peringatan halus. Tekanan pemanfaatan yang terus berlangsung, terutama pada spesies tertentu, berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem intertidal jika tidak dikelola dengan bijak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan ko-manajemen berbasis masyarakat—sebuah model pengelolaan yang tidak menempatkan warga sebagai objek, melainkan sebagai aktor utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya.
“Yang kita dorong adalah pengelolaan bersama. Masyarakat harus menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar penerima aturan,” menjadi garis besar pemikirannya dalam forum tersebut.
Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa forum SYMARFISH menjadi ruang penting untuk mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan kebijakan publik.
Ia menilai, kontribusi para Guru Besar seperti Prof. Nadiarti menunjukkan bahwa riset akademik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat menjelaskan persoalan nyata yang terjadi di lapangan.
SYMARFISH 2026 sendiri diikuti oleh sekitar 120 peserta dengan 90 abstrak makalah dari berbagai negara, termasuk perwakilan BRIN serta pembicara undangan dari Turki, Malaysia, dan Tiongkok.
Di balik forum internasional itu, riset Prof. Nadiarti kembali menegaskan satu pesan sederhana namun kuat: laut tidak pernah benar-benar “biasa”—ia menyimpan cerita besar yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau melihat lebih dalam.(*)
