MAROS, Katasulsel.com – Di tengah persaingan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 Sulawesi Selatan, nama Nasywa Aqilah Shahib dari Kabupaten Pangkep muncul sebagai salah satu finalis cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) yang paling menonjol bukan hanya karena prestasi, tetapi karena cara berpikirnya yang melampaui pola umum lomba.

Nasywa hadir dengan pendekatan yang tidak sekadar tekstual, tetapi kontekstual dan berani menarik Al-Qur’an ke wilayah isu modern. Pada babak penyisihan, ia mengangkat QS Al-A’raf ayat 31 dengan sudut pandang ekoteologi yang mengaitkan etika berpakaian dengan dampak industri fashion terhadap kerusakan lingkungan atau yang ia sebut sebagai fashion ecocide. Gagasan ini memperlihatkan cara baca yang menghubungkan nilai spiritual dengan krisis ekologis global.

Pada babak semifinal, ia kembali membawa isu yang lebih kompleks dengan mengangkat QS Al-Baqarah ayat 143 untuk membahas moderasi beragama di tengah polarisasi digital. Ia menyoroti fenomena echo chamber di media sosial, yaitu ruang digital yang memperkuat opini searah dan berpotensi memicu ketegangan sosial, lalu mengaitkannya dengan pentingnya nilai keseimbangan dalam Islam.

Pendekatan ini menunjukkan pergeseran cara generasi muda memahami teks keagamaan, dari yang bersifat normatif menjadi lebih analitis terhadap realitas sosial dan teknologi. Al-Qur’an dalam karya Nasywa tidak hanya ditempatkan sebagai objek bacaan, tetapi sebagai kerangka nilai untuk membaca perubahan zaman.

Latar belakang akademiknya sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Alauddin Makassar serta rekam jejak prestasi di berbagai kompetisi ilmiah turut memperkuat pendekatan intelektual yang ia bawa ke MTQ. Ia sebelumnya juga meraih prestasi di tingkat nasional dan internasional melalui karya tulis ilmiah.

Nasywa mengaku ketertarikannya pada dunia tulis-menulis tumbuh dari kebiasaan membaca dan dorongan untuk menghubungkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan kehidupan kontemporer. Baginya, menulis adalah cara sederhana untuk menyebarkan manfaat dan menghadirkan relevansi ajaran Islam dalam kehidupan modern.

Kehadiran Nasywa di final KTIQ MTQ Sulsel menjadi gambaran bahwa kompetisi ini tidak lagi hanya berbicara soal kemampuan akademik klasik, tetapi juga kemampuan membaca realitas zaman. Di tengah arus digital yang cepat, Al-Qur’an dalam perspektif generasi muda mulai hadir sebagai sumber nilai yang dialogis dengan isu-isu global, dari lingkungan hingga algoritma media sosial. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita