Sidrap, katasulsel.com — Sidrap kembali mendapat pengakuan dari luar negeri.
Kali ini datang dari Australia.
Saat memberikan pelatihan teknologi pertanian modern dan smart farming di Aula Saromase, Kompleks SKPD Sidrap, Sabtu (8/8/2026), perwakilan University of Newcastle Australia melihat langsung bagaimana sektor pertanian di Bumi Nene Mallomo berkembang.
Kesimpulannya cukup menarik.
Mereka menilai pertanian Sidrap tidak lagi bisa disebut pertanian konvensional.
Banyak indikator menunjukkan daerah ini sudah bergerak menuju sistem pertanian modern.
Penilaian itu bukan tanpa alasan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sidrap dikenal agresif mengadopsi berbagai inovasi pertanian. Mulai dari mekanisasi alat dan mesin pertanian, pengelolaan irigasi, peningkatan indeks pertanaman, hingga penerapan berbagai program peningkatan produktivitas yang kini menjadi perhatian nasional.
Bahkan produktivitas padi Sidrap yang belakangan disebut menembus 11,2 ton per hektare menjadi salah satu capaian yang membuat banyak kalangan luar daerah mulai melirik kabupaten tersebut.
Karena itulah University of Newcastle Australia bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) memilih Sidrap sebagai lokasi berbagi pengetahuan mengenai teknologi pertanian masa depan.
Di hadapan petani dan pelaku sektor pertanian, tim University of Newcastle yang diwakili Shaleeza Sohail dan Teuku Geumpana memaparkan berbagai perkembangan teknologi yang kini digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Namun menariknya, mereka tidak datang untuk mengajari Sidrap dari nol.
Mereka justru menemukan banyak praktik pertanian yang menunjukkan bahwa daerah ini telah berada di jalur modernisasi.
Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif menyambut baik penilaian tersebut.
Menurutnya, pengakuan dari kalangan akademisi internasional menjadi motivasi bagi petani Sidrap untuk terus berinovasi dan terbuka terhadap perkembangan teknologi.
“Terima kasih kepada University of Newcastle yang telah hadir di Sidrap memberikan ilmu dan pemahaman tentang teknologi. Kita berharap petani di Sidrap semakin cerdas dalam bekerja dan mampu meningkatkan hasil pertanian,” kata Syaharuddin.
Meski mendapat apresiasi, Syaharuddin mengingatkan bahwa modernisasi pertanian tidak boleh berhenti.
Ia ingin petani Sidrap terus belajar dan mengadopsi teknologi baru agar mampu menghadapi tantangan masa depan.
Baginya, pelatihan seperti ini bukan sekadar agenda seremonial.
Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan.
“Ini ilmu baru, pengalaman baru, dan metode baru. Jangan hanya berhenti di ruang pelatihan. Terapkan di sawah dan kebun agar hasilnya benar-benar dirasakan petani,” tegasnya.
Kedatangan akademisi Australia ke Sidrap juga memberi pesan tersendiri.
Jika dulu petani Sidrap belajar dari daerah lain, kini kondisi mulai berubah.
Justru kalangan luar negeri yang datang melihat langsung perkembangan pertanian di Bumi Nene Mallomo.
Dan ketika orang Australia mulai menyebut pertanian Sidrap sudah modern, itu menjadi sinyal bahwa transformasi yang selama ini dibangun perlahan mulai terlihat oleh dunia luar. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
