Sidrap, katasulsel.com β Di daerah agraris seperti Kecamatan Tellu Limpoe, anak-anak tumbuh dengan satu pelajaran sederhana dari sawah.
Padi yang dipanen terlalu cepat tidak akan menghasilkan gabah terbaik.
Buah yang dipetik sebelum matang tidak akan memberi rasa yang sempurna.
Begitu pula kehidupan.
Ada waktunya tumbuh.
Ada waktunya belajar.
Ada waktunya mempersiapkan diri.
Dan ada waktunya memasuki pernikahan.
Pesan itulah yang dibawa Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin saat menyambangi MTsS PP Nasrul Haq di Kelurahan Pajalele, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (31/7/2026).
Mereka tidak datang membawa larangan.
Tidak pula membawa ceramah panjang yang membosankan.
Mereka datang membawa percakapan tentang masa depan.
Tentang mimpi.
Tentang cita-cita yang sering kali terhenti ketika seseorang menikah terlalu muda.
Kegiatan sosialisasi pencegahan pernikahan dini itu lahir dari kenyataan yang masih ditemukan di berbagai daerah.
Masih ada remaja yang menikah sebelum benar-benar siap.
Kadang karena tekanan lingkungan.
Kadang karena tradisi.
Kadang pula karena kurangnya informasi mengenai dampak yang akan dihadapi setelah pernikahan berlangsung.
Padahal, pernikahan bukan sekadar pesta sehari.
Ia adalah perjalanan puluhan tahun.
Karena itu, mahasiswa KKN-T Unhas memilih membuka ruang diskusi yang lebih dekat dengan kehidupan para siswa.
Mereka membahas bagaimana pernikahan dini dapat memengaruhi pendidikan, kesehatan, kondisi psikologis, hingga masa depan ekonomi seseorang.
Banyak siswa yang awalnya menganggap persoalan tersebut jauh dari kehidupan mereka.
Namun setelah sesi berjalan, suasana berubah.
Tangan-tangan mulai terangkat.
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.
Ada yang bertanya tentang batas usia menikah menurut hukum.
Ada yang ingin tahu dampak kesehatan bagi perempuan yang menikah pada usia terlalu muda.
Ada pula yang penasaran mengapa banyak pasangan muda akhirnya kesulitan mempertahankan rumah tangga.
Diskusi menjadi hidup.
Bukan karena mereka sedang membahas pernikahan.
Tetapi karena mereka sedang membicarakan masa depan mereka sendiri.
Penanggung jawab program, Syakila Ramdani, mengatakan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan tersebut adalah memberikan pemahaman yang utuh kepada remaja sebelum mereka mengambil keputusan penting dalam hidupnya.
“Kami berharap siswa memahami bahwa masa remaja adalah waktu untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri. Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa mengambil keputusan yang lebih matang di masa depan,” ujarnya.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut.
Menurut mereka, edukasi semacam ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan memberikan perlindungan kepada remaja dari berbagai risiko sosial yang dapat menghambat masa depan mereka.
Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan perubahan pola pergaulan, remaja membutuhkan ruang untuk berdiskusi tentang hal-hal yang sering dianggap tabu.
Dan hari itu, ruang itu hadir di sebuah madrasah di Pajalele.
Mahasiswa KKN-T Unhas mungkin hanya berada di sana beberapa jam.
Namun pesan yang mereka tinggalkan diharapkan bertahan jauh lebih lama.
Bahwa setiap mimpi membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Bahwa setiap cita-cita memerlukan kesempatan untuk berkembang.
Dan bahwa pernikahan, seperti padi di sawah, akan lebih baik jika dipanen pada waktunya.
Karena masa depan yang besar sering kali lahir dari kesabaran untuk menunggu saat yang tepat. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
