Sidrap, katasulsel.com — Sidenreng Rappang (Sidrap) sedang mengirim pesan penting ke dunia pertanian Indonesia.

Pesan itu tidak disampaikan lewat seminar.

Tapi, datang dari hamparan sawah.

Angkanya sederhana: 11,2 ton gabah per hektare.

Tetapi bagi kalangan pertanian, angka tersebut tidak sederhana.

Ia membuat banyak orang berhenti sejenak. Menghitung ulang. Membandingkan.

Sebab sebelumnya, Kabupaten Brebes di Jawa Tengah yang menjadi lokasi percontohan Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) mencatat produktivitas 10,43 ton per hektare.

Brebes dikenal sebagai salah satu daerah pertanian kuat di Pulau Jawa.

Namun Sidrap melampauinya.

Selisihnya memang tidak sampai satu ton.

Tetapi dalam dunia pertanian, kenaikan beberapa kuintal saja sudah dianggap luar biasa.

Apalagi dalam skala ribuan hektare.

Pertanyaannya kemudian muncul.

Apa rahasia Sidrap?

Jawabannya ternyata bukan satu faktor.

Melainkan kombinasi yang selama ini perlahan dibangun.

Sidrap Tidak Sekadar Menanam Padi

Banyak daerah memiliki sawah luas.

Banyak pula yang mendapatkan bantuan benih dan pupuk.

Namun tidak semua mampu menghasilkan produktivitas di atas 11 ton per hektare.

Yang membedakan Sidrap adalah ekosistem pertaniannya.

Di daerah ini, bertani bukan sekadar pekerjaan.

Ia sudah menjadi budaya.

Pengetahuan bertani diwariskan dari generasi ke generasi.

Petani Sidrap relatif lebih cepat menerima inovasi dibanding banyak daerah lain.

Ketika teknologi baru datang, mereka tidak terlalu lama berpikir.

Mereka langsung mencoba.

Teknologi Bertemu Pengalaman

Program PM-AAS sebenarnya adalah perpaduan berbagai teknologi modern.

Mulai dari benih unggul, mekanisasi, pemupukan presisi, pengaturan air, hingga pendampingan intensif.

Di banyak daerah, teknologi sering terkendala karena petani belum terbiasa.

Di Sidrap situasinya berbeda.

Teknologi bertemu pengalaman.

Petani sudah memahami karakter tanah, cuaca, dan pola tanam.

Ketika teknologi masuk, hasilnya menjadi berlipat.

Itulah yang membuat produktivitas melonjak.

Irigasi Menjadi Kunci yang Sering Dilupakan

Ada satu faktor yang jarang dibicarakan.

Irigasi.

Sidrap memiliki salah satu sistem irigasi terbaik di Sulawesi Selatan.

Keberadaan Bendungan Bila, jaringan irigasi teknis, serta dukungan infrastruktur pertanian membuat pasokan air relatif lebih terjaga.

Di banyak daerah sentra padi nasional, masalah utama justru air.

Ketika musim kemarau datang, produktivitas turun.

Sidrap berhasil menjaga stabilitas produksi karena persoalan air lebih terkendali.

El Nino Tak Mampu Menjatuhkan Sidrap

Ketika El Nino melanda berbagai wilayah Indonesia dalam dua tahun terakhir, banyak daerah mengalami penurunan produksi.

Beberapa sentra padi bahkan mengalami puso.

Namun Sidrap relatif bertahan.

Data pemerintah daerah menunjukkan dari sekitar 52 ribu hektare lahan pertanian, hanya sekitar seribu hektare yang terdampak serius.

Sisanya tetap berproduksi.

Ini menunjukkan ketahanan sistem pertanian Sidrap jauh lebih baik dibanding banyak wilayah lain.

Bukan Sekadar Panen, Tapi Citra Baru

Selama ini Sidrap dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan.

Predikat itu sudah lama melekat.

Namun hasil 11,2 ton per hektare membawa citra baru.

Sidrap bukan hanya lumbung beras.

Sidrap mulai dipandang sebagai contoh keberhasilan transformasi pertanian modern.

Jika Brebes menjadi bukti PM-AAS berhasil di Jawa, maka Sidrap membuktikan teknologi yang sama juga mampu menghasilkan produktivitas lebih tinggi di luar Jawa.

Ini penting.

Sebab selama puluhan tahun, ukuran keberhasilan pertanian nasional sering berpusat di Pulau Jawa.

Kini Sulawesi Selatan ikut berbicara.

Dan suara itu datang dari Sidrap.

Tantangan Berikutnya

Namun pekerjaan belum selesai.

Produktivitas tinggi harus diikuti keberlanjutan.

Pertanian modern tidak boleh berhenti pada proyek percontohan.

Ia harus menjadi kebiasaan baru.

Karena tantangan berikutnya bukan lagi menghasilkan 11,2 ton.

Melainkan menjaga agar angka itu tetap bertahan di ribuan hektare lahan.

Jika itu berhasil dilakukan, Sidrap tidak hanya menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan.

Ia bisa menjadi model pertanian modern nasional.

Dan mungkin, ketika orang berbicara tentang revolusi pertanian Indonesia beberapa tahun ke depan, nama yang pertama disebut bukan lagi Brebes, Karawang, atau Indramayu.

Melainkan Sidrap.

Daerah yang diam-diam membuat Indonesia terkejut dari hamparan sawahnya. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini