Sidrap, katasulsel.com — Ada satu hal yang tidak pernah ikut masuk ke ruang ganti. Tidak ikut difoto. Tidak ikut diangkat trofi. Bahkan sering tidak disebut dalam konferensi pers.
Disiplin.
Cristiano Ronaldo sudah terlalu sering kita lihat angkat trofi. Tapi jarang kita lihat jam tambahan latihannya. Kita lebih sering melihat selebrasi, bukan keringat yang jatuh lebih dulu sebelum stadion penuh.
Padahal di situlah cerita sebenarnya.
Ronaldo tidak pernah tampak sedang “menunggu waktu”. Ia selalu terlihat sedang “mengejar sesuatu”. Bahkan ketika sudah disebut legenda.
Di titik ini, saya jadi ingat satu pola yang juga muncul di tempat yang sangat jauh dari Santiago Bernabéu atau Old Trafford.
Sidrap.
Bukan stadion. Tapi kabupaten.
Nama Syaharuddin Alrif, atau SAR, belakangan sering muncul dalam cerita-cerita warga. Bukan karena sensasi. Tapi karena satu hal yang sederhana: ia sering terlihat di lapangan. Bukan di belakang meja.
Kalau Ronaldo hidup di dunia yang dihitung dengan gol, SAR hidup di dunia yang dihitung dengan keputusan. Yang satu mengejar bola, yang satu mengejar masalah.
Tapi keduanya punya kesamaan yang agak tidak nyaman untuk dibantah: mereka tidak betah diam.
Di banyak tempat, kita mengenal pemimpin dari pidatonya. Di Sidrap, sebagian orang mulai mengenal pemimpin dari jejak langkahnya. Dari pagi yang sudah mulai bergerak, hingga malam yang belum tentu selesai.
Tentu ini bukan cerita “membandingkan”. Dunia sepak bola dan pemerintahan tidak bisa disamakan. Itu terlalu memaksa.
Tapi manusia punya satu hal yang bisa disejajarkan: kebiasaan.
Dan kebiasaan adalah bentuk disiplin yang paling jujur.
Ronaldo tidak menjadi Ronaldo karena satu pertandingan hebat. Ia menjadi Ronaldo karena ribuan latihan yang tidak pernah viral.
SAR juga tidak dinilai dari satu kunjungan kerja. Tapi dari pola yang berulang: hadir, melihat, memastikan, bergerak lagi.
Di situ letak persamaan yang diam-diam menarik.
Disiplin itu tidak bising. Tapi efeknya bisa sangat keras.
Kadang kita terlalu sibuk mencari “bakat besar”. Padahal yang membuat seseorang bertahan lama bukan bakat, tapi rutinitas yang tidak putus.
Ronaldo tahu itu.
Dan siapa pun yang pernah melihat cara kerja seorang pemimpin lapangan, juga akan paham: kerja publik bukan soal satu momen besar, tapi seratus momen kecil yang tidak sempat difoto.
Mungkin karena itu, disiplin selalu terlihat biasa saja. Tidak dramatis. Tidak sensasional.
Tapi justru dari yang biasa-biasa itulah sesuatu yang luar biasa sering lahir.
Ronaldo menulisnya di rumput hijau.
SAR menuliskannya di jalan-jalan Sidrap.
Dan kita, seperti biasa, baru sadar setelah cerita itu sudah terlalu jauh berjalan. (*)
