Sidrap, katasulsel.com — Biasanya kendaraan water cannon identik dengan pengamanan aksi massa atau penanganan gangguan keamanan.
Di Sidenreng Rappang (Sidrap), fungsinya mulai bergeser.
Bukan untuk membubarkan kerumunan.
Tapi untuk menyelamatkan sawah.
Gagasan tak biasa itu mengemuka saat Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, menerima audiensi Komandan Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda Sulsel Parepare, Kompol Ramli, di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, Sabtu (8/8/2026).
Pertemuan tersebut sekilas tampak sebagai agenda koordinasi biasa.
Namun di baliknya tersimpan satu pesan penting: Sidrap tidak ingin produktivitas pertaniannya terganggu hanya karena persoalan air.
Karena itu, seluruh potensi yang ada mulai dihimpun.
Termasuk menggandeng Brimob.
Dalam diskusi itu, Syaharuddin memaparkan kondisi terkini sektor pertanian Sidrap yang sedang berada dalam fase penting.
Produksi gabah meningkat.
Harga gabah relatif baik.
Program pertanian modern terus diperluas.
Namun satu tantangan tetap menghantui: ketersediaan air.
Musim yang tidak selalu bersahabat membuat sebagian lahan membutuhkan dukungan tambahan agar siklus tanam tidak terganggu.
Di sinilah muncul ide kolaborasi lintas sektor.
Pemkab Sidrap dan Brimob Parepare membahas kemungkinan pemanfaatan sarana pendukung, termasuk kendaraan water cannon, untuk membantu distribusi air ke wilayah persawahan yang membutuhkan.
Bagi daerah lain, mungkin terdengar tidak lazim.
Tetapi bagi Sidrap, setiap tetes air berarti gabah.
Dan setiap gabah berarti ekonomi masyarakat.
“Kita terus membangun koordinasi dengan berbagai pihak agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani bersama. Kolaborasi seperti ini penting untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya petani,” kata Syaharuddin.
Pernyataan itu menggambarkan cara berpikir yang mulai berkembang di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional tersebut.
Jika biasanya persoalan pertanian hanya dibebankan kepada dinas teknis, kini pendekatannya lebih luas.
Semua pihak diajak terlibat.
Semua sumber daya dimaksimalkan.
Tidak heran.
Beberapa hari terakhir nama Sidrap menjadi perhatian nasional setelah produktivitas padi melalui program PM-AAS menembus 11,2 ton per hektare, tertinggi di Indonesia saat ini.
Capaian itu membuat Sidrap tidak sekadar menjadi daerah penghasil beras.
Tetapi menjadi laboratorium pertanian modern yang sedang diamati banyak daerah lain.
Karena itu, menjaga keberlanjutan produksi menjadi agenda yang tidak bisa ditawar.
Kompol Ramli menyambut positif gagasan tersebut.
Menurutnya, Brimob siap membangun sinergi dengan pemerintah daerah selama memberi manfaat bagi masyarakat.
Pendekatan seperti ini menunjukkan wajah baru institusi negara.
Brimob tidak hanya hadir ketika ada gangguan keamanan.
Tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi sosial dan ekonomi masyarakat.
Di Sidrap, ketahanan pangan mulai diperlakukan seperti urusan bersama.
Bukan hanya tugas petani.
Bukan hanya tugas pemerintah.
Melainkan kerja kolektif seluruh elemen.
Ketika daerah lain masih berbicara soal bantuan setelah krisis datang, Sidrap memilih bergerak sebelum masalah membesar.
Dan ketika kendaraan water cannon mulai dibayangkan menuju hamparan sawah, pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana:
Di Sidrap, air bukan sekadar kebutuhan.
Air adalah investasi untuk menjaga gelar lumbung pangan tetap bertahan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
