Sidrap, katasulsel.com – Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap, kembali membuat kejutan.

Kali ini bukan soal luas sawahnya.

Bukan pula karena statusnya sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Yang membuat banyak pihak menoleh adalah angka hasil panennya.

11,2 ton gabah per hektare.

Angka itu muncul dari panen perdana Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang dikembangkan Kementerian Pertanian.

Bahkan, hasil tersebut melampaui target yang sebelumnya ditetapkan pemerintah.

Di tengah tantangan perubahan iklim, biaya produksi yang terus meningkat, dan tekanan terhadap sektor pangan nasional, capaian Sidrap menjadi kabar yang membuat banyak orang pertanian terkejut.

Sebab produktivitas tersebut berada jauh di atas rata-rata nasional.

Panen perdana dilakukan di kawasan PM-AAS seluas 100 hektare.

Dari hasil ubinan satu hektare lahan, produktivitas mencapai setara 11,2 ton gabah per hektare.

Lahan tersebut ditanami varietas Inpari 48 pada 30 April 2026 dan dipanen setelah berumur 98 hari.

Hasilnya bukan hanya melampaui target, tetapi juga menjadi salah satu capaian tertinggi dalam penerapan PM-AAS di Indonesia.

Sebelumnya, program yang sama mencatat produktivitas 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Kini Sidrap berhasil melampauinya.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry, menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan pertanian modern mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Menurutnya, keberhasilan di Sidrap memperkuat keyakinan bahwa PM-AAS dapat diterapkan di berbagai daerah dengan hasil yang konsisten.

“Penerapan pertanian PM-AAS kembali membuktikan keberhasilannya dalam meningkatkan produktivitas padi nasional,” kata Fadjry.

Program PM-AAS menggabungkan berbagai teknologi dalam satu sistem budidaya terpadu.

Mulai dari penggunaan benih unggul yang sesuai kondisi wilayah, mekanisasi pertanian, pemupukan berimbang, pengelolaan air yang lebih efisien, hingga pendampingan intensif kepada petani.

Pendekatan itu membuat produktivitas meningkat sekaligus menekan biaya produksi.

Jika selama ini banyak petani mengandalkan pola tanam konvensional, PM-AAS mencoba menghadirkan cara kerja yang lebih presisi dan berbasis teknologi.

Hasil di Sidrap menunjukkan pendekatan tersebut bukan sekadar teori.

Ia bekerja di lapangan.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut capaian itu sebagai bukti bahwa petani Sidrap mampu menjawab kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat.

“Alhamdulillah hasilnya over target. Ini membuktikan petani Sidrap mampu menjawab kepercayaan pemerintah,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut terasa semakin istimewa karena lahir setelah sektor pertanian menghadapi tantangan El Nino yang sempat memengaruhi sejumlah daerah.

Namun Sidrap tetap mampu menjaga produktivitas pertaniannya.

Dari sekitar 52 ribu hektare lahan pertanian yang dimiliki, hanya sekitar seribu hektare yang terdampak.

Saat ini sekitar 50 ribu hektare lahan telah memasuki masa panen.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kabupaten Sidrap menyiapkan hadiah umrah bagi petani dengan hasil panen tertinggi di kawasan PM-AAS.

Tak hanya itu, pemerintah juga kembali memberikan kepercayaan kepada Sidrap untuk pengembangan program lanjutan.

Sekitar 10 ribu hektare lahan akan mendapat dukungan benih unggul, pupuk urea, Phonska, silika, pupuk organik, hingga dolomit guna mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga tiga kali dalam setahun.

Kepercayaan itu menunjukkan satu hal.

Sidrap tidak lagi hanya dikenal sebagai lumbung beras Sulawesi Selatan.

Kini daerah ini mulai dilihat sebagai salah satu laboratorium keberhasilan pertanian modern Indonesia.

Dan semuanya berawal dari angka yang membuat banyak orang kaget:

11,2 ton per hektare. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini