Presiden kabarnya disadap. Di Sidrap, yang sibuk melacak justru para istri. Suami ke warung kopi saja bisa ketahuan.

Oleh: Edy Basri

Saya jadi berpikir, ternyata dunia ini memang tidak pernah kekurangan penyadap.

Di tingkat negara, ada urusan intelijen. Ada pembicaraan rahasia. Ada telepon yang konon bisa didengar orang lain. Bahkan, belakangan nama Presiden ikut terseret dalam isu penyadapan yang ramai dibicarakan.

Serius itu.

Tetapi saya tidak mau membicarakan penyadapan negara. Terlalu berat.

Biarlah orang-orang pintar yang membahasnya.

Kali ini, saya justru tertarik pada penyadapan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penyadapan rumah tangga.

Khususnya di Sidrap.

Di sini, yang disadap bukan Presiden. Bukan pejabat. Bukan pula orang penting.

Yang disadap adalah kebanyakan suami.

Pelakunya? Istri sendiri.

Hehehe.

Jangan tertawa dulu.

Ini bukan pekerjaan sederhana. Ada teknologi, ada pengamatan, ada pengumpulan informasi, bahkan ada analisis sebelum kesimpulan dijatuhkan.

Bedanya, kantor operasinya bukan di gedung intelijen. Bisa di dapur. Bisa di ruang tengah. Bisa juga di kamar sambil memegang ponsel.

Saya membayangkan seorang suami di Sidrap.

Pagi-pagi pamit kepada istri.

“Keluar dulu.”

“Ke mana?”

“Ke luar.”

Jawaban seperti itu sebenarnya sudah salah sejak awal.

Dalam ilmu komunikasi rumah tangga, jawaban harus mengandung unsur tempat, tujuan, siapa yang ditemui, dan perkiraan waktu pulang.

Kalau tidak, pertanyaan lanjutan bisa datang bertubi-tubi.

“Ke mana?”

“Ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Sama teman.”

“Teman siapa?”

Nah, sudah seperti mengisi formulir pemeriksaan.

Padahal si suami hanya mau minum kopi.

Dulu, orang yang ingin mengetahui keberadaan seseorang harus menyewa detektif. Harus menguntit. Harus mengikuti dari belakang. Kalau perlu memakai mobil dengan kaca gelap.

Sekarang tidak perlu.

Ada WhatsApp.

Ada fitur berbagi lokasi.

Ada riwayat panggilan.

Ada status.

Ada foto.

Bahkan, kadang-kadang tidak perlu membuka ponsel suami. Cukup melihat perubahan kebiasaannya.

Biasanya ponsel ditaruh di atas meja. Sekarang dibawa ke mana-mana.

Biasanya kalau mandi, ponsel ditinggal. Sekarang ikut masuk kamar mandi.

Biasanya kalau ada pesan masuk, dibaca biasa saja. Sekarang senyumnya berubah sedikit.

Nah, yang terakhir ini paling berbahaya.

Sebab, istri tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk mengetahui bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Ia sudah mengenal suaminya bertahun-tahun.

Perubahan satu milimeter pun bisa terbaca.

Saya juga membayangkan ada suami yang sedang duduk santai di salah satu warung kopi di Pangkajene.

Kopi hitam di depan. Pisang goreng di samping. Teman-teman sedang membahas politik, harga gabah, atau pertandingan sepak bola.

Tiba-tiba telepon berdering.

“Di mana?”

“Di luar.”

“Di luar mana?”

“Di warung.”

“Warung mana?”

Si suami mulai gelisah.

Padahal belum ada yang menuduh.

Tetapi pertanyaan berikutnya biasanya lebih tajam.

“Kenapa tidak bilang kalau ke situ?”

Selesai.

Kopi yang tadinya terasa pahit-manis, mendadak berubah menjadi pahit saja.

Teman-teman mungkin masih asyik berceloteh. Tetapi pikiran si suami sudah pulang lebih dulu ke rumah.

Ada yang pernah mengalami?

Jangan angkat tangan. Nanti ketahuan.

Yang menarik, intelijen rumah tangga ini tidak selalu bekerja menggunakan perangkat elektronik.

Kadang informasinya datang dari sumber manusia.

Dalam dunia intelijen, istilahnya human intelligence.

Di dunia rumah tangga Sidrap, mungkin namanya intel tetangga.

Sumbernya bisa macam-macam.

Ada yang melihat suami sedang minum kopi. Ada yang berpapasan di jalan. Ada yang kebetulan duduk di meja sebelah.

Informasi kemudian bergerak.

Tidak perlu konferensi pers.

Tidak perlu siaran pers.

Cukup satu pesan pendek:

“Bu, tadi saya lihat suamita.”

Kalimat itu saja sudah bisa mengubah suasana sore.

Apalagi kalau disertai foto.

Waduh.

Teknologi memang membuat dunia semakin kecil. Tetapi bagi sebagian suami, dunia justru terasa semakin sempit.

Saya pernah berpikir, mengapa para istri begitu mudah mengetahui sesuatu?

Mungkin karena mereka tidak hanya mendengar apa yang dikatakan suami.

Mereka juga memperhatikan apa yang tidak dikatakan.

Suami bilang sebentar, tetapi pulangnya lama.

Suami bilang rapat, tetapi tidak tahu rapat apa.

Suami bilang baterai habis, tetapi status WhatsApp masih aktif.

Ini bukan lagi soal penyadapan.

Ini soal konsistensi keterangan.

Dalam hukum acara, keterangan yang tidak konsisten bisa menimbulkan pertanyaan. Dalam rumah tangga, keterangan yang tidak konsisten bisa menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih banyak.

Hehehe.

Tentu saja tidak semua istri seperti itu. Dan tidak semua suami punya sesuatu yang perlu disembunyikan.

Ada juga suami yang justru ingin dilacak. Supaya istrinya tahu bahwa dia benar-benar sedang bekerja, bukan sedang keluyuran.

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat: rasa ingin tahu tidak boleh berubah menjadi pelanggaran privasi. Rumah tangga tetap membutuhkan kepercayaan.

Sebab, kalau setiap langkah harus diawasi, hidup bisa terasa seperti sedang menjalani masa percobaan.

Kembali ke soal Presiden.

Kalau benar ada penyadapan ilegal terhadap komunikasi kepala negara, tentu itu persoalan serius. Negara harus punya perlindungan komunikasi yang kuat.

Tetapi di Sidrap, saya kira ada persoalan yang lebih sederhana.

Bagaimana caranya seorang suami bisa duduk menikmati kopi tanpa harus menyusun laporan perjalanan?

Jawabannya sebenarnya mudah.

Jujur saja.

Kalau ke warung kopi, bilang ke warung kopi.

Kalau pulang terlambat, kabari.

Kalau ada urusan, jelaskan.

Jangan membuat istri menjadi penyidik hanya karena suami terlalu hemat informasi.

Sebab, dalam rumah tangga, keterbukaan jauh lebih murah daripada memasang alat pelacak.

Dan satu lagi.

Jangan pernah merasa lebih pintar daripada istri sendiri.

Dia mungkin tidak tahu teknologi penyadapan. Tidak mengerti perangkat lunak pelacak. Tidak pernah belajar ilmu intelijen.

Tetapi dia tahu kebiasaan suaminya.

Dia tahu jam pulangnya.

Dia tahu suara motornya.

Dia bahkan mungkin tahu kapan suaminya sedang berbohong hanya dari cara menjawab telepon.

Maka, kalau belakangan ini Presiden ramai dibicarakan karena isu penyadapan, jangan-jangan Sidrap punya cerita yang lebih dekat dengan kehidupan kita.

Di sini, penyadapan tidak perlu menunggu perintah negara.

Tidak perlu anggaran miliaran.

Tidak perlu satelit.

Cukup seorang istri, sebuah ponsel, dan satu pertanyaan sederhana:

“Sayang, sekarang di mana?”

Lalu suami menjawab:

“Di jalan.”

Istri membalas:

“Jalan yang mana? Saya lihat lokasita masih di warung kopi.”

Astagaaa.

Intelijen rumah tangga ternyata sudah melampaui teknologi.

Presiden mungkin perlu pengamanan komunikasi.

Suami Sidrap cukup perlu satu hal: jangan lupa izin kalau mau ngopi.

Heeee……… (*)