Sidrap, Katasulsel.com – Ancaman rabies masih menjadi perhatian serius di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Penyakit mematikan yang ditularkan melalui gigitan hewan tersebut tidak hanya mengancam orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang kerap berinteraksi dengan hewan peliharaan maupun hewan liar di lingkungan sekitar.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program edukatif bertajuk “SIAP RABIES (Siswa Peduli Pencegahan Rabies): Program Edukasi Pencegahan Rabies melalui Pembelajaran Interaktif” di UPT SDN 4 Massepe, Kelurahan Massepe, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026 itu diprakarsai oleh Tari Salwa Humayra Tamsir, mahasiswa Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin, dengan melibatkan seluruh siswa kelas VI sebagai peserta utama.

Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya, program ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong siswa menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dalam upaya mencegah penyebaran rabies.

Sejak pagi, suasana kelas tampak hidup. Para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian saat pemateri menjelaskan bahaya rabies yang hingga kini masih menjadi salah satu penyakit zoonosis paling mematikan di dunia.

Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai jenis hewan yang berpotensi menularkan rabies, seperti anjing, kucing, dan monyet. Mereka juga diajak mengenali tanda-tanda hewan yang diduga terinfeksi rabies, mulai dari perilaku agresif, mengeluarkan air liur berlebihan, hingga perubahan perilaku yang tidak biasa.

Tidak hanya itu, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai gejala rabies pada manusia serta pentingnya penanganan cepat apabila terjadi gigitan hewan yang dicurigai membawa virus rabies.

Materi lain yang tak kalah penting adalah bagaimana bersikap ketika bertemu hewan liar. Anak-anak diajarkan untuk tidak memancing, mengejar, atau melakukan kontak berlebihan dengan hewan yang tidak dikenal.

Salah satu fokus utama dalam edukasi tersebut adalah langkah pertolongan pertama setelah gigitan hewan. Para siswa diberi pemahaman bahwa luka gigitan harus segera dicuci menggunakan air mengalir dan sabun selama beberapa menit sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Pesan sederhana itu disampaikan berulang kali agar tertanam kuat dalam ingatan peserta.

Untuk membuat suasana belajar lebih menarik, mahasiswa KKN menerapkan metode pembelajaran interaktif berupa presentasi, sesi tanya jawab, permainan edukatif, hingga kuis seputar rabies.

Setiap pertanyaan yang dilemparkan kepada peserta langsung disambut dengan tangan-tangan kecil yang berebut ingin menjawab.

Antusiasme siswa menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat diterima dengan baik ketika disampaikan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan usia peserta.

Sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran, peserta juga mengikuti pre-test sebelum kegiatan dimulai dan post-test setelah seluruh materi selesai diberikan. Metode ini digunakan untuk mengukur sejauh mana peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti program edukasi.

Guru pendamping, Ipah, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.

“Bagus, karena memberikan pengetahuan kepada anak-anak sejak dini, bahwa boleh berhubungan dengan hewan liar tapi jangan terlalu dekat karena akan menimbulkan dampak negatif akibat tergigit dan menjadi penyakit,” ujarnya.

Menurutnya, edukasi semacam ini sangat penting karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan berinteraksi dengan hewan tanpa memahami risiko yang mungkin ditimbulkan.

Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Tari Salwa Humayra Tamsir, berharap program SIAP RABIES dapat menjadi salah satu langkah kecil yang memberikan dampak besar dalam upaya menekan angka kasus rabies di Kabupaten Sidrap.

Lebih jauh, para siswa diharapkan tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga mampu menyampaikan kembali informasi tersebut kepada keluarga, teman, dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka.

Dengan demikian, pesan-pesan pencegahan rabies dapat menyebar lebih luas dan menjangkau lebih banyak orang.

Program ini sekaligus menjadi dukungan nyata terhadap visi “SIDRAP ZERO RABIES 2030”, sebuah cita-cita besar untuk mewujudkan Kabupaten Sidrap yang bebas dari ancaman rabies melalui edukasi, kesadaran masyarakat, dan langkah-langkah pencegahan yang berkelanjutan.

Bagi mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin, keberhasilan kegiatan ini bukan hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir, melainkan dari lahirnya generasi muda yang lebih waspada, lebih peduli, dan lebih siap menghadapi ancaman rabies di masa depan.

Karena perang melawan rabies tidak selalu dimulai di rumah sakit atau klinik kesehatan. Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari ruang kelas, ketika seorang anak memahami bahwa satu gigitan hewan bisa menjadi ancaman serius, dan satu pengetahuan yang dibagikan dapat menyelamatkan nyawa. (*)

Topik Terkait: Sidrap
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini