Sidrap menjadi daerah pertama di Indonesia yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga bayu berskala besar melalui kawasan turbin angin yang berdiri megah di wilayah Pitu Riase. Kehadiran proyek tersebut bukan hanya memasok energi bagi jaringan listrik nasional, tetapi juga menjadikan Sidrap sebagai simbol pengembangan energi bersih di Indonesia.

Di sisi lain, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus tumbuh sebagai penyangga ekonomi masyarakat. Berbagai produk pangan lokal, kuliner khas, kerajinan, hingga usaha perdagangan skala kecil menjadi sumber penghasilan bagi ribuan warga.

Meski memiliki banyak potensi, tantangan tetap ada. Perubahan iklim, fluktuasi harga hasil pertanian, hingga kebutuhan modernisasi teknologi menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama. Namun pengalaman panjang masyarakat dalam mengelola sektor pertanian membuat Sidrap memiliki daya tahan ekonomi yang cukup kuat dibanding banyak daerah lain.

Keunggulan itulah yang membuat Sidrap terus diperhitungkan dalam peta ekonomi Sulawesi Selatan.

Daerah ini bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dari setiap rantai usaha yang tumbuh di sekitarnya. Dari sawah, peternakan, perdagangan, hingga energi terbarukan, semuanya berkontribusi membentuk fondasi ekonomi yang kokoh.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, Sidrap membuktikan bahwa kekuatan sebuah daerah tidak selalu lahir dari gedung-gedung pencakar langit atau kawasan industri raksasa. Terkadang, kekuatan itu tumbuh dari tanah yang subur, kerja keras masyarakat, dan kemampuan menjaga produktivitas dari generasi ke generasi.

Dan di Sulawesi Selatan, salah satu contoh paling nyata dari kisah tersebut bernama Sidrap. (*)