Kalau Sidrap hanya dikenal dari apa yang viral, kasihan sekali kabupaten ini.
Oleh: Edy Basri
Pimred Katasulsel.com
Namanya bisa cepat naik ya.
Viralnya dimana-mana. FB, IG, TikTok dan lainnya.
Sayangnya, sering karena kabar yang membuat orang menggeleng-gelengkan kepala.
Passobis.
Narkoba.
Persoalan sosial.
Lalu muncul kesimpulan yang lebih cepat lagi:
βOh, Sidrap begitu rupanya.β
Begitu mudahnya sebuah daerah diberi cap.
Padahal Sidrap tidak pernah sesederhana satu video.
Tidak juga sesederhana satu kasus.
Saya justru penasaran dengan Sidrap yang tidak viral.
Yang tidak masuk FYP.
Yang tidak menjadi bahan perdebatan di grup WhatsApp.
Di situlah ceritanya mulai menarik.
Coba lihat sawahnya.
Padi masih tumbuh.
Petani masih turun ke sawah.
Panen masih berlangsung.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyebut produksi beras daerahnya sekitar 500 ribu ton per tahun.
Lima ratus ribu ton.
Pasti, itu bukan angka kecil.
Di balik angka itu ada petani yang tangannya hitam terkena lumpur.
Ada traktor.
Ada penggilingan.
Ada sopir truk.
Ada pedagang.
Ada warung yang menerima uang dari hasil panen.
Ada keluarga yang membayar uang sekolah anaknya dari sawah.
Jadi kalau orang bilang Sidrap adalah daerah pertanian, jangan bayangkan hanya hamparan hijau.
Bayangkan juga uang yang berputar.
Lalu lihat ke atas bukit.
Ada benda-benda besar yang berputar.
Bukan kincir angin untuk hiasan.
Itu PLTB.
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu.
Angin dijadikan listrik.
Di Sidrap.
Daerah yang namanya kadang lebih cepat dikenal karena passobis daripada karena energi terbarukan.
Ironis?
Sedikit.
Menarik?
Sangat.
Sebab Sidrap ternyata pernah menjadi salah satu daerah penting dalam cerita energi angin Indonesia.
Jadi begini:
di bawah ada sawah.
Di atas ada turbin.
Bersambung………
Di tengah-tengahnya ada manusia yang bekerja.
Tidak ada yang viral.
Tapi semuanya nyata.
Dalam sebuah podcast yang saya pandu belum lama ini, Syaharuddin bercerita panjang tentang daerah yang dipimpinnya.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Sidrap pada 2025 mencapai sekitar 7,7 persen.
Sebelumnya sekitar 4 persen.
Angka itu tentu harus dibaca dengan data resmi dan konteks yang tepat.
Tetapi satu hal jelas.
Ekonomi Sidrap sedang bergerak.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar:
βNaik berapa persen?β
Pertanyaan yang lebih penting:
βSiapa yang ikut naik?β
Petani?
Pedagang?
Pelaku UMKM?
Anak muda?
Itulah pekerjaan rumah pemerintah.
Karena statistik bagus di atas kertas belum tentu otomatis bagus di meja makan.
Syaharuddin juga membawa cerita tentang stunting dan kemiskinan.
Ia memastikan stunting Sidrap berada pada posisi rendah di Sulawesi Selatan.
Kemiskinan ekstrem disebut sekitar 0,94 persen.
Kemiskinan secara umum hanya sekitar 4 persen.
Lagi-lagi, angka.
Tetapi angka sebenarnya punya wajah.
Ada nama.
Ada rumah.
Ada anak.
Ada ibu.
Ada keluarga.
Kalau angka kemiskinan turun, berarti seharusnya ada keluarga yang pelan-pelan bisa bernapas lebih lega.
Itu yang lebih penting.
Menariknya, ketika Sidrap sedang ramai dibicarakan karena persoalan sosial, ternyata ada juga orang-orang yang sudah lama bekerja menghadapinya.
MUI Sidrap, misalnya.
Dalam tanggapan di media sosial, aktivis MUI Sidrap Ismail Ma’sa menyebut pembinaan keagamaan dilakukan sampai ke desa-desa terpencil.
Ia menyebut sembilan desa menjadi desa binaan.
Sekitar 60 muballigh dilibatkan.
Kegiatan mengaji dan taklim juga disebut berlangsung di sekitar 600 masjid dengan pendampingan sekitar 1.200 muballigh.
Saya membayangkan pekerjaan seperti itu.
Datang ke desa.
Mengajar.
Berceramah.
Mendampingi.
Pulang.
Besok datang lagi.
Tidak trending.
Tidak ada jutaan views.
Bersambung………
Tetapi mungkin justru pekerjaan semacam itulah yang perlahan mengubah masyarakat.
Saya kira di sinilah kita sering keliru melihat sebuah daerah.
Kita lebih suka melihat yang berisik.
Yang viral.
Yang kontroversial.
Yang membuat darah naik.
Yang membuat jempol gatal menekan tombol share.
Sedangkan yang baik-baik biasanya berjalan tanpa suara.
Petani tidak membuat konferensi pers ketika berhasil panen.
Pedagang tidak membuat siaran langsung ketika tokonya laku.
Guru tidak mengunggah setiap kali muridnya berhasil.
Muballigh tidak membuat konten setiap kali selesai membina jamaah.
Turbin angin juga tidak pernah membuat status:
βHari ini saya kembali berputar.β
Ia memang berputar.
Setiap hari.
Karena itu saya mulai melihat Sidrap dengan cara berbeda.
Bukan berarti persoalannya tidak ada.
Ada.
Dan harus diakui.
Passobis harus diberantas.
Narkoba harus dilawan.
Kejahatan harus ditindak.
Problem sosial tidak boleh ditutup-tutupi.
Tetapi membicarakan Sidrap hanya dari sisi itu juga sama tidak adilnya dengan menutup mata terhadap masalah.
Daerah harus dilihat utuh.
Seperti manusia.
Manusia tidak bisa disebut baik hanya karena pernah melakukan kebaikan.
Juga tidak bisa disebut buruk hanya karena pernah melakukan kesalahan.
Begitu pula sebuah kabupaten.
Maka saya kira tantangan Syaharuddin bukan sekadar membuat Sidrap lebih maju.
Ada pekerjaan yang tidak kalah sulit:
membuat orang melihat kemajuan itu.
Sebab citra sebuah daerah kadang berjalan lebih cepat daripada faktanya.
Satu kasus bisa membuat nama daerah dikenal se-Indonesia.
Sementara seribu keberhasilan kecil mungkin tidak pernah keluar dari kampungnya.
Itulah pekerjaan media juga.
Bukan memutihkan yang hitam.
Bukan pula menghitamkan yang putih.
Tetapi menunjukkan keduanya.
Agar publik punya gambaran yang utuh.
Bersambung………
Sidrap punya masalah.
Tetapi Sidrap juga punya modal.
Sawahnya ada.
Telurnya bergerak.
Energinya berputar.
Ekonominya tumbuh.
Pemerintah bekerja.
Masyarakat bergerak.
Ulama membina.
Anak-anak sekolah.
Petani bertahan.
Pengusaha tumbuh.
Semua itu adalah Sidrap.
Jadi kalau suatu hari ada yang bertanya:
βSidrap itu daerah apa?β
Jangan jawab hanya dengan satu stigma.
Jawab saja:
βDatanglah. Lihat sendiri.β
Lihat sawahnya.
Lihat turbin anginnya.
Lihat pasarnya.
Lihat masjidnya.
Lihat sekolahnya.
Lihat manusianya.
Baru kemudian menilai.
Sebab kadang-kadang kita terlalu cepat percaya pada Sidrap yang ada di layar.
Padahal Sidrap yang sebenarnya…
jauh lebih besar daripada yang viral. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
