Anak-anak yang juga kehilangan ayah.
Anak-anak yang tentu membutuhkan seorang ibu yang tetap kuat.
Mungkin itulah alasan seorang ibu harus tetap berdiri.
Bukan karena ia tidak sedih.
Bukan karena ia tidak takut.
Tetapi karena ada anak yang masih menunggunya.
Ada rumah yang harus tetap dijalani.
Ada kehidupan yang tidak bisa dihentikan.
Kita sering mengira orang kuat adalah orang yang tidak pernah menangis.
Padahal mungkin bukan itu.
Orang kuat bisa saja menangis.
Bisa saja merasa lelah.
Bisa saja ingin menyerah.
Tetapi kemudian bangun lagi keesokan harinya.
Melanjutkan hidup.
Perempuan dalam kisah ini mungkin sedang berada di fase seperti itu.
Kita tidak perlu mengetahui seluruh luka yang pernah ia simpan.
Tidak perlu pula menghakimi masa lalunya.
Cukup memahami bahwa kehilangan tiga orang yang pernah menjadi pasangan hidup bukan sesuatu yang ringan.
Dan jika hari ini ia masih bisa duduk, menjawab pertanyaan, dan menghadapi kehidupan, mungkin itu sendiri sudah menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan yang besar.
Semoga apa pun yang sedang dihadapinya saat ini segera menemukan jalan terbaik.
Semoga ia selalu diberi kesehatan dan kekuatan.
Semoga kedua anaknya tumbuh dengan baik.
Dan semoga setelah begitu banyak kehilangan, Tuhan menghadirkan lebih banyak ketenangan dalam hidupnya.
Karena pada akhirnya, kisah ini bukan tentang tiga suami yang meninggal.
Ini tentang seorang ibu yang tiga kali kehilangan, tetapi tiga kali pula memilih untuk tetap melanjutkan hidup.
Dan mungkin, itulah bagian paling kuat dari kisahnya.
