Ghina Annafesh Aditya’s
SIDRAP — Banyak warga baru mengetahui dirinya mengidap hipertensi setelah mengalami pusing berkepanjangan. Sebagian lainnya baru sadar kadar gula darahnya tinggi ketika penyakit sudah menimbulkan komplikasi.
Masalahnya sederhana: banyak orang enggan memeriksakan diri.
Fenomena itu yang ditemukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Hasanuddin (Unhas) di Kecamatan Rijang Pittu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Alih-alih menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan, mereka memilih membalik cara kerja pelayanan kesehatan.
Mereka yang mendatangi warga.
Rumah demi rumah.
Program itu diberi nama SISTOLIK (Siaga Screening Tekanan Darah Optimal Lindungi Kardiovaskular), sebuah gerakan deteksi dini hipertensi dan diabetes yang berlangsung sepanjang Juli 2026.
Program ini digagas mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Unhas, Ghina Annafesh Aditya’s, sebagai respons terhadap masih rendahnya kesadaran masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Padahal, hipertensi dan diabetes termasuk penyakit tidak menular yang sering dijuluki “silent killer” karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas.
Di Sidrap, daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan, perhatian terhadap kesehatan masyarakat kini menjadi isu yang tak kalah penting dibanding produktivitas pertanian.
Sebab tingginya aktivitas masyarakat, terutama petani dan pekerja lapangan, sering kali membuat pemeriksaan kesehatan dianggap bukan prioritas.
“Stigma dan kecemasan terhadap hasil pemeriksaan masih menjadi alasan banyak warga enggan datang ke fasilitas kesehatan. Karena itu kami memilih mendatangi mereka secara langsung,” ujar Ghina.
Program SISTOLIK dimulai dengan kegiatan skrining kesehatan massal yang digelar bersamaan dengan kerja bakti warga.
Pendekatan ini sengaja dipilih agar pemeriksaan kesehatan terasa lebih santai dan tidak menegangkan.
Setelah itu, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan metode door to door.
Mereka menyusuri rumah-rumah warga di Rijang Pittu.
Membawa alat pemeriksaan tekanan darah.
Membawa alat cek gula darah.
Dan yang paling penting, membawa edukasi.
Setiap warga yang diperiksa mendapatkan penjelasan langsung mengenai kondisi kesehatannya.
Bukan sekadar angka di alat ukur.
Tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana mencegah penyakit berkembang lebih parah.
Melalui kerja sama dengan Puskesmas Pangkajene, mahasiswa memberikan layanan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, hingga edukasi pola hidup sehat secara gratis.
Bagi warga yang hasil pemeriksaannya menunjukkan risiko hipertensi atau diabetes, mahasiswa tidak berhenti pada tahap skrining.
Mereka langsung memberikan edukasi lanjutan dan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut ke Puskesmas.
Pendekatan ini mendapat respons positif dari masyarakat.
Banyak warga yang sebelumnya belum pernah memeriksa tekanan darah akhirnya bersedia diperiksa karena dilakukan di lingkungan yang akrab dan nyaman.
Program ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat sering kali bukan semata-mata soal ketersediaan layanan.
Tetapi juga soal pendekatan.
Ketika tenaga kesehatan dan mahasiswa hadir lebih dekat dengan masyarakat, rasa takut perlahan berubah menjadi kesadaran.
Bagi Sidrap, langkah kecil seperti ini memiliki arti besar.
Daerah yang sedang menikmati kemajuan di sektor pertanian dan pertumbuhan ekonomi juga membutuhkan masyarakat yang sehat agar pembangunan berjalan seimbang.
Karena sawah yang produktif membutuhkan petani yang sehat.
Dan masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kualitas kesehatan masyarakatnya.
Melalui SISTOLIK, mahasiswa Unhas tidak sekadar melakukan pemeriksaan kesehatan.
Mereka sedang membangun budaya baru.
Budaya untuk tidak takut memeriksakan diri sebelum penyakit datang lebih dulu. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
