Sidrap, Katasulsel.com β€” Upaya deteksi dini HIV di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus diperkuat. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 5.866 orang telah menjalani tes HIV melalui berbagai layanan kesehatan di Kabupaten Sidrap.

Data tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan HIV tidak hanya menyasar kelompok tertentu, tetapi telah menjangkau masyarakat dari berbagai kategori, termasuk ibu hamil, calon pengantin, pasien tuberkulosis (TB), serta sejumlah populasi yang menjadi sasaran layanan skrining.

Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, Dr. Ishak Kenre, SKM, M.Kes, melalui program pencegahan dan pengendalian penyakit menular, terus mendorong penguatan deteksi dini sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan produktif.

Menariknya, dari ribuan pemeriksaan tersebut, ibu hamil menjadi kelompok dengan jumlah tes HIV paling banyak, yakni mencapai 3.109 orang.

Pemeriksaan terhadap ibu hamil memiliki arti penting karena deteksi dini dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan penanganan dan pendampingan kesehatan yang tepat, termasuk dalam upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.

Setelah ibu hamil, calon pengantin menjadi kelompok dengan jumlah pemeriksaan cukup besar, mencapai 1.044 orang.

Angka ini memperlihatkan bahwa skrining kesehatan mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam persiapan membangun keluarga.

Dari Puskesmas hingga Rumah Sakit

Layanan tes HIV juga menjangkau sejumlah fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Sidrap.

Berdasarkan data Januari-Agustus 2026, Puskesmas Pangkajene mencatat jumlah pemeriksaan terbanyak dengan 1.199 tes, atau sekitar 77 persen dari target 1.559 pemeriksaan.

Sementara Puskesmas Lawawoi mencatat 950 pemeriksaan atau sekitar 91 persen dari target 1.042.

Ada pula Puskesmas Tanru Tedong dengan 618 pemeriksaan, Rappang 494, Bilokka 346, Dongi 318, Barukku 316, Baranti 301, Lancirang 285, Empagae 267, Kulo 216, Manisa 198, Amparita 194, serta Belawae 43 pemeriksaan.

Dari sisi persentase terhadap target, Puskesmas Dongi tercatat mencapai 105 persen, dengan 318 pemeriksaan dari target 302.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa target pemeriksaan bukan sekadar angka administratif, tetapi menjadi gambaran bagaimana layanan kesehatan bergerak menjangkau masyarakat di lapangan.

Pelayanan juga dilakukan di rumah sakit. Data mencatat pemeriksaan HIV di RSUD Arifin Nu’mang sebanyak 23 tes, RSUD Nene Mallomo 62 tes, RSU Anugrah 1 tes, dan RS Adinda Medical Center 35 tes.

Bukan Soal Takut, Tapi Tahu Lebih Awal

Jika dilihat berdasarkan kategori pemeriksaan, data Dinas Kesehatan Sidrap mencatat 644 pemeriksaan pada kelompok LSL, 389 pemeriksaan pasien TB, dan 273 pemeriksaan pada WPS.

Selain itu, pemeriksaan juga dilakukan pada populasi umum sebanyak 97 orang, pelanggan PS 80 orang, IMS 69 orang, waria 67 orang, warga binaan pemasyarakatan 63 orang, pasangan risiko tinggi 14 orang, pasangan ODHIV 7 orang, penasun 5 orang, anak dari ibu ODHIV 3 orang, serta kategori hepatitis 2 orang.

Beragamnya sasaran pemeriksaan tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan layanan HIV dilakukan melalui skrining berdasarkan kebutuhan dan faktor risiko, bukan untuk memberikan label kepada seseorang.

Pesan yang dibangun justru sederhana: semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin cepat pula langkah kesehatan yang tepat dapat dilakukan.

Karena itu, pemeriksaan HIV tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan atau memalukan.

Sebaliknya, tes merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan diri, pasangan, keluarga, dan masyarakat.

Sidrap Memilih Bergerak, Bukan Memberi Stigma

Capaian Januari-Agustus 2026 juga menjadi gambaran bahwa pencegahan HIV di Sidrap membutuhkan kerja bersama.

Bersambung……….

Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memperluas akses pemeriksaan dan memastikan masyarakat memperoleh informasi serta layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Masih adanya perbedaan capaian antarwilayah juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat jangkauan layanan ke depan.

Bagi fasilitas kesehatan yang telah mencapai atau melampaui target, capaian tersebut dapat menjadi modal untuk mempertahankan kualitas layanan. Sementara wilayah yang masih berada di bawah target dapat memperkuat strategi sosialisasi, penjangkauan, dan kolaborasi.

Dengan slogan β€œDeteksi Dini Selamatkan Masa Depan. Akhiri HIV, Mulai dari Kita,” pesan yang ingin dibangun bukan tentang siapa yang harus dicurigai.

Tetapi tentang bagaimana masyarakat memiliki keberanian untuk mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal dan mendapatkan layanan yang tepat.

Sebab pada akhirnya, melawan HIV bukan dengan stigma.

Melainkan dengan informasi, pemeriksaan, pengobatan, pendampingan, dan kepedulian.

Dan dari Sidrap, pesan itu terus digaungkan:

β€œSkrining Hari Ini, Sehat untuk Nanti.” (*)