Soppeng, Katasulsel.com — Api sudah padam. Tetapi bagi ratusan pedagang Pasar Sentral Batu-Batu, Kecamatan Marioriawa, persoalan justru memasuki babak yang lebih berat: bagaimana kembali berjualan setelah tempat usaha mereka dilalap api?
Kebakaran pada Sabtu malam (24/10/2026) itu dilaporkan menghanguskan sekitar 500 kios. Kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp2 miliar. Angka tersebut masih memerlukan pendataan dan verifikasi lebih lanjut. <Cite refs={[“turn800805search0″,”turn800805search4”]}/>
Pasar bukan sekadar kumpulan kios. Di balik setiap pintu dagangan, ada modal yang diputar, barang yang dibeli, kebutuhan keluarga yang harus dibayar, dan pelanggan yang setiap hari datang.
Ketika kios terbakar, seluruh mata rantai itu ikut terganggu.
Karena itu, tantangan Soppeng sekarang bukan hanya membersihkan sisa kebakaran atau membangun kembali bangunan yang rusak. Ada kehidupan ekonomi yang harus diselamatkan agar tidak ikut berhenti terlalu lama.
Bupati pulang, tetapi pekerjaan tidak boleh berhenti di situ
Di tengah musibah tersebut, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng memilih meninggalkan sebagian agenda Partai Golkar di Makassar untuk kembali ke daerahnya.
Ia sebelumnya berada di Makassar untuk mengikuti agenda partai dan dijadwalkan menjalani pelantikan sebagai Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.
Begitu menerima kabar kebakaran, Suwardi mengoordinasikan jajaran pemerintah kabupaten melalui sambungan video call. Ia meminta aparat dan organisasi perangkat daerah segera bergerak tanpa harus menunggu kedatangannya.
“Saya akan segera kembali ke Soppeng siang ini juga. Saya tak lagi mengikuti rangkaian acara syukuran HUT Golkar di Pinisi Point malam ini. Penanganan kebakaran harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi bagian dari respons kepala daerah terhadap keadaan darurat. Namun, bagi warga terdampak, perhatian pemerintah pada akhirnya akan dinilai dari hasil kerja di lapangan.
Seberapa cepat bantuan tiba? Seberapa akurat pendataan dilakukan? Dan yang paling ditunggu pedagang: kapan mereka bisa kembali membuka usaha?
Jangan sampai pedagang kehilangan dua kali
Ada risiko yang sering luput ketika sebuah pasar terbakar.
Pertama, pedagang kehilangan tempat usaha dan barang dagangan. Kedua, mereka berpotensi kehilangan pendapatan selama proses pemulihan berlangsung.
Kerugian kedua ini tidak selalu terlihat dalam pendataan bangunan yang rusak. Padahal, bagi pedagang kecil, beberapa hari tanpa pemasukan saja dapat mengganggu kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, rencana Pemkab Soppeng untuk mengkaji pasar darurat atau lokasi berjualan sementara menjadi langkah yang patut mendapat perhatian.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM diminta mengkaji kemungkinan penyediaan tempat sementara agar aktivitas perdagangan dapat kembali berjalan.
Jika direalisasikan, lokasi tersebut perlu mempertimbangkan keamanan, akses pembeli, distribusi barang, dan pembagian tempat yang adil bagi pedagang terdampak.
Pemulihan juga membutuhkan data yang jelas. Pemerintah perlu membedakan tingkat kerusakan, mencatat identitas pedagang, dan memverifikasi kebutuhan masing-masing. Data itu penting agar bantuan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.
Sekitar 500 kios, bukan angka yang kecil
Laporan awal mengenai sekitar 500 kios yang terbakar menunjukkan besarnya skala persoalan. Namun, jumlah final harus menunggu pencocokan data pemerintah daerah dan pengelola pasar. <Cite refs={[“turn800805search4”]}/>
Begitu pula taksiran kerugian Rp2 miliar. Angka tersebut memberikan gambaran awal, tetapi belum otomatis mencakup seluruh dampak ekonomi yang mungkin dialami pedagang.
Nilai barang dagangan, peralatan usaha, modal kerja, serta pendapatan yang hilang selama pasar tidak beroperasi merupakan persoalan berbeda yang perlu diperhitungkan sesuai data yang tersedia.
Di sinilah pendataan menjadi lebih dari sekadar urusan administrasi. Data yang akurat bisa menjadi dasar untuk menentukan bentuk bantuan, menyusun pemulihan, dan memastikan warga yang benar-benar terdampak tidak terlewat.
Pemkab Soppeng juga meminta Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan menyiapkan bantuan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, dan dukungan bagi korban yang membutuhkan.
Sementara itu, koordinasi lintas instansi diperlukan agar penanganan darurat dan pemulihan berjalan dalam satu arah.
Penyebab api urusan polisi, pemulihan urusan bersama
Polisi telah mengamankan seorang pria yang diduga terkait dengan kebakaran tersebut. Namun, dugaan keterlibatan seseorang tidak sama dengan kesimpulan bahwa penyebab kebakaran sudah terbukti. Penyidikan masih diperlukan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. <Cite refs={[“turn800805search3″,”turn800805search4”]}/>
Pemerintah daerah sendiri menegaskan bahwa penyelidikan penyebab kebakaran diserahkan kepada kepolisian. Fokus pemerintah adalah penanganan darurat dan pemulihan ekonomi warga.
Pemisahan ini penting. Penyebab kebakaran harus ditentukan berdasarkan bukti, bukan spekulasi. Pada saat yang sama, para pedagang tidak seharusnya harus menunggu seluruh proses penyelidikan selesai untuk mendapatkan bantuan kebutuhan mendesak.
Keduanya bisa berjalan bersamaan: proses hukum berlangsung, sementara pemulihan kehidupan warga mulai disiapkan.
Setelah api padam, baru terlihat arti kehadiran pemerintah
Musibah Pasar Sentral Batu-Batu memperlihatkan bahwa bencana ekonomi masyarakat tidak selesai ketika kobaran api terakhir berhasil dipadamkan.
Ada tahap panjang setelahnya: pendataan, penyaluran bantuan, penentuan lokasi usaha sementara, penataan kembali pasar, dan pemulihan aktivitas perdagangan.
Suwardi Haseng telah menyatakan prioritasnya adalah penanganan korban dan pemulihan ekonomi. Kini, pekerjaan berikutnya adalah memastikan arahan tersebut diterjemahkan menjadi langkah yang terukur dan dapat dipantau masyarakat.
Bagi pedagang, yang dibutuhkan bukan sekadar janji bahwa pasar akan kembali hidup. Mereka membutuhkan kepastian tentang tempat berjualan, mekanisme bantuan, dan tahapan pemulihan yang jelas.
Sebab, pasar yang ramai bukan hanya menguntungkan pedagang. Pasar juga menghidupkan pemasok, pengangkut barang, pekerja, dan warga yang menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada aktivitas perdagangan.
Api di Batu-Batu mungkin telah padam. Tetapi denyut ekonomi masyarakatnya harus segera dinyalakan kembali. (*)
