Bulukumba, Katasulsel.com — Banyak kecelakaan lalu lintas berakhir dengan angka statistik. Satu korban meninggal. Dua korban luka. Kendaraan rusak. Polisi melakukan penyelidikan.

Namun kecelakaan yang terjadi di Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba, Sabtu (13/6/2026), meninggalkan cerita yang berbeda.

Yang paling menyentuh perhatian publik bukan benturan kendaraan, bukan pula kondisi truk yang terlibat.

Yang menjadi pusat perhatian justru seorang anak kecil.

Di tengah keramaian warga dan proses evakuasi, bocah itu terlihat kebingungan. Ia berada di dekat lokasi kejadian, menangis sambil mencari sosok yang selama ini selalu berada di sisinya: sang ibu.

Video singkat yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana yang membuat banyak orang terdiam. Tidak ada teriakan marah. Tidak ada keributan besar.

Yang terdengar hanya tangisan seorang anak yang belum memahami bahwa hidupnya baru saja berubah dalam hitungan detik.

Korban meninggal diketahui bernama Rosdiani. Ia sedang melakukan perjalanan bersama suami dan anaknya ketika kecelakaan terjadi.

Sementara aparat kepolisian masih mendalami penyebab pasti insiden tersebut, perhatian masyarakat justru tertuju pada nasib anak yang menjadi saksi langsung tragedi itu.

Di berbagai kolom komentar media sosial, banyak warganet tidak lagi membahas kronologi kecelakaan. Mereka lebih banyak menuliskan doa dan ungkapan simpati untuk sang bocah.

Sebab di balik setiap kecelakaan, ada cerita yang sering luput dari perhatian.

Ada keluarga yang kehilangan tulang punggung.

Ada anak yang kehilangan pelukan.

Ada rumah yang mendadak terasa kosong.

Peristiwa di Bulukumba ini seakan mengingatkan bahwa sebuah kecelakaan bukan hanya soal kendaraan yang bertabrakan. Dampaknya bisa jauh lebih panjang daripada garis polisi di lokasi kejadian.

Ketika proses evakuasi selesai, kendaraan dipindahkan, dan jalan kembali normal, kehidupan seorang anak tidak akan pernah sama lagi.

Sabtu sore itu, Bulukumba tidak hanya mencatat sebuah kecelakaan lalu lintas.

Bulukumba menyaksikan seorang anak kecil yang harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya, bahkan sebelum ia cukup mengerti arti sebuah perpisahan.(*)