Makassar, Katasulsel.com — Di balik cerita sukses sebuah UMKM, sering ada sosok yang jarang terlihat. Bukan investor. Bukan pejabat. Bukan pula pemilik modal besar.
Mereka adalah para pendamping usaha.
Minggu (14/6/2026), puluhan pengurus Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Kota Makassar berkumpul dalam kegiatan Capacity Building. Sekilas terlihat seperti pelatihan biasa. Namun bagi ABDSI, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menyiapkan “pasukan pendamping” yang mampu membantu UMKM bertahan di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat.
Ketua ABDSI Makassar, Ria Wahyuni, menyebut tantangan UMKM saat ini tidak lagi sederhana. Pelaku usaha mikro kini harus menghadapi perubahan perilaku konsumen, persaingan digital, hingga tuntutan inovasi produk yang terus berkembang.
Karena itu, menurutnya, pendamping UMKM juga tidak boleh berhenti belajar.
“Kalau pelaku usaha dituntut berkembang, maka pendampingnya juga harus berkembang. Mereka harus memahami persoalan UMKM secara utuh dan mampu memberikan solusi yang tepat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperdalam berbagai materi mulai dari pengelolaan usaha, strategi pemasaran, pengembangan produk, hingga pemanfaatan teknologi digital yang kini menjadi kebutuhan utama dunia usaha.
ABDSI Makassar sendiri selama ini aktif mendampingi pelaku UMKM yang sebagian besar merupakan usaha mikro milik perempuan dan ibu rumah tangga.
Di banyak sudut Kota Makassar, usaha-usaha kecil tersebut menjadi penyangga ekonomi keluarga. Ada yang menjual kue rumahan, makanan olahan, kerajinan tangan hingga produk fesyen skala mikro.
Namun di balik semangat mereka, masih banyak kendala yang ditemui.
Mulai dari tidak adanya pembukuan usaha, kesulitan menentukan harga jual, desain kemasan yang kurang menarik, hingga minimnya kemampuan memasarkan produk secara digital.
“Kadang produknya bagus, tapi tidak tahu cara menjualnya. Ada juga yang ramai pembeli, tetapi tidak tahu apakah sebenarnya untung atau rugi karena tidak punya pencatatan keuangan yang baik,” ujar Ria.
Menurutnya, persoalan seperti itu membutuhkan pendamping yang tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga mampu turun langsung membantu pelaku usaha mencari solusi.
Melalui kegiatan ini, ABDSI Makassar ingin memperkuat kualitas sumber daya manusia di internal organisasi agar mampu menjadi jembatan antara pengetahuan bisnis modern dengan kebutuhan riil UMKM di lapangan.
Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, ABDSI meyakini bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh modal dan produk, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang mereka terima.
Sebab ketika usaha kecil mendapat arahan yang tepat, bukan hanya omzet yang bertambah. Lapangan kerja tumbuh, ekonomi keluarga menguat, dan roda perekonomian daerah ikut bergerak.(*)
