Makassar, Katasulsel.com — Di tengah pergantian 14 Kapolres dalam gelombang mutasi besar Polda Sulawesi Selatan, Kabupaten Wajo menjadi salah satu daerah yang akan memasuki babak baru kepemimpinan kepolisian.
Bagi masyarakat Wajo, pergantian ini bukan sekadar pergantian nama di kursi Kapolres. Ia adalah awal dari harapan baru di daerah yang dikenal sebagai Bumi Lamaddukelleng, wilayah yang memiliki dinamika sosial, budaya, dan keamanan yang khas di Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat Wajo, pergantian ini bukan sekadar pergantian nama di kursi Kapolres. Ia adalah awal dari harapan baru di daerah yang dikenal sebagai Bumi Lamaddukelleng, wilayah yang memiliki dinamika sosial, budaya, dan keamanan yang khas di Sulawesi Selatan.
Masuknya AKBP Douglas Mahendrajaya menjadi perhatian tersendiri. Namanya muncul dalam daftar perwira yang dipercaya mengisi posisi strategis pada mutasi kali ini. Penugasan tersebut sekaligus menunjukkan kepercayaan pimpinan Polri terhadap kemampuannya memimpin salah satu kabupaten terluas di Sulsel.
Tantangan yang menanti tidaklah ringan. Wajo merupakan daerah dengan aktivitas ekonomi, pertanian, perikanan, hingga perdagangan yang terus berkembang. Di sisi lain, berbagai isu kamtibmas, lalu lintas, hingga pelayanan publik menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dijaga dan ditingkatkan.
Pergantian ini juga menandai berakhirnya masa kepemimpinan AKBP Muhammad Rosid Ridho yang selama ini memimpin Polres Wajo. Sosoknya meninggalkan jejak pengabdian yang akan menjadi bagian dari perjalanan institusi di daerah tersebut.
Di tubuh Polri, mutasi merupakan bagian dari mekanisme pembinaan karier dan penyegaran organisasi. Namun bagi masyarakat, setiap pergantian Kapolres selalu menghadirkan pertanyaan yang sama: arah baru seperti apa yang akan dibawa pemimpin berikutnya?
Kini, perhatian publik Wajo tertuju kepada AKBP Douglas Mahendrajaya. Di tengah arus perubahan yang bergerak dari Makassar hingga pelosok Sulawesi Selatan, ia datang membawa mandat baru: menjaga stabilitas keamanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat di tanah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Bugis.
Pergantian komando telah diputuskan. Selanjutnya, sejarah akan mencatat bagaimana langkah pertama sang nahkoda baru mengarungi samudra pengabdian di Bumi Lamaddukelleng.(*)
