Sidrap, Katasulsel.com — Ada yang menarik dari sebutir telur.
Bentuknya sama.
Putihnya sama.
Kuningnya juga sama.
Tetapi begitu berpindah tempat, harganya bisa berubah jauh.
Di Sidrap, harga telur ayam ras di pasaran disebut berada di kisaran Rp41.000–Rp43.000 per rak isi 30 butir.
Di Makassar, harga per rak bisa bergerak jauh lebih lebar, sekitar Rp38.000 hingga Rp65.000, tergantung ukuran telur, lokasi pasar dan rantai distribusinya.
Di sinilah cerita telur menjadi tidak sesederhana telur.
Karena pertanyaannya kemudian:
Kalau harga di konsumen bisa tinggi, mengapa peternak belum tentu ikut menikmati?
Dari Kandang ke Pasar, Harganya Bisa Berubah
Sidrap dikenal sebagai salah satu sentra produksi telur ayam ras di Sulawesi Selatan.
Ayam petelur menjadi bagian penting dari ekonomi masyarakat.
Peternak memelihara ayam setiap hari.
Pakan harus tersedia.
Air harus tersedia.
Kandang harus dirawat.
Telur harus dikumpulkan.
Dan setelah itu, telur keluar dari kandang menuju pasar.
Di titik inilah harga mulai memiliki banyak cerita.
Harga di kandang tidak selalu sama dengan harga di agen.
Harga agen belum tentu sama dengan pedagang.
Dan harga pedagang belum tentu sama dengan harga yang dibayar konsumen.
Selisih itu bukan otomatis berarti ada pihak yang bermain.
Ada biaya transportasi, penyortiran, kerusakan, penyimpanan, tenaga kerja dan margin perdagangan.
Tetapi ketika selisih terlalu lebar, pertanyaan tentang efisiensi rantai distribusi menjadi wajar.
Yang Mahal Belum Tentu Peternaknya
Inilah bagian yang sering membingungkan masyarakat.
Konsumen melihat harga telur.
Peternak melihat biaya produksi.
Dua angka itu tidak selalu bergerak searah.
Harga telur naik sedikit, belum tentu keuntungan peternak ikut naik.
Sebab di belakang sebutir telur ada biaya pakan yang besar.
Ada DOC atau bibit ayam.
Ada obat dan vitamin.
Ada tenaga kerja.
Ada listrik.
Ada penyusutan kandang.
Ada risiko ayam sakit atau produksi turun.
Dan yang paling berat: harga pakan.
Jika harga pakan naik sementara harga telur tertahan, margin peternak semakin tipis.
Telur tetap keluar setiap hari.
Tetapi keuntungan belum tentu ikut keluar.
Rp41 Ribu di Sidrap, Rp65 Ribu di Makassar
Jika menggunakan kisaran harga yang beredar, perbedaan harga tersebut cukup menarik untuk dilihat.
Satu rak berisi 30 butir.
Di Sidrap sekitar Rp41.000–Rp43.000.
Sementara di Makassar bisa mencapai Rp65.000 untuk ukuran dan pasar tertentu.
Tetapi jangan buru-buru menghitung selisih itu sebagai keuntungan peternak.
Sebab telur yang sampai di Makassar telah melewati perjalanan.
Ada ongkos angkut.
Ada pedagang pengumpul.
Ada agen.
Ada pengecer.
Ada kemungkinan telur pecah.
Ada biaya operasional.
Jadi harga konsumen tidak bisa langsung dipotong dengan harga peternak lalu disebut sebagai keuntungan.
Namun justru karena itulah transparansi rantai perdagangan menjadi penting.
Sidrap Punya Posisi Unik
Ada paradoks kecil di sini.
Daerah penghasil tidak selalu menjadi daerah dengan harga tertinggi.
Sidrap memproduksi.
Makassar mengonsumsi.
Telur bergerak dari kandang menuju kota.
Dan sepanjang perjalanan itu, nilai ekonominya berubah.
Ini sebenarnya bukan hanya persoalan telur.
Ini persoalan klasik produk pertanian dan peternakan:
siapa yang menghasilkan, siapa yang menguasai distribusi, dan siapa yang akhirnya menentukan harga?
Peternak memiliki ayam.
Pedagang memiliki pasar.
Konsumen memiliki daya beli.
Sementara harga terbentuk di tengah-tengahnya.
Telur Tidak Bisa Menunggu
Ada satu perbedaan telur dengan banyak komoditas lain.
Telur diproduksi setiap hari.
Ayam tidak bisa diminta berhenti bertelur karena harga sedang turun.
Pakan tetap harus diberikan.
Kandang tetap harus dirawat.
Telur tetap harus dikeluarkan.
Karena itu, peternak menghadapi situasi unik.
Ketika harga turun, produksi tidak bisa langsung dihentikan.
Ayam tetap makan.
Dan biaya tetap berjalan.
Inilah mengapa fluktuasi harga menjadi persoalan serius bagi peternak.
Jangan Sampai Peternak Hanya Menjadi Mesin Produksi
Peternak tentu tidak berharap harga telur selalu tinggi.
Harga yang terlalu tinggi juga membebani konsumen.
Yang dibutuhkan sebenarnya adalah harga yang wajar dan berkelanjutan.
Harga yang membuat konsumen masih mampu membeli.
Tetapi peternak juga masih mampu membayar pakan, memelihara ayam, membayar pekerja dan mendapatkan keuntungan yang layak.
Karena kalau peternak terus tertekan, dampaknya pada akhirnya kembali ke konsumen.
Peternak mengurangi populasi.
Produksi turun.
Pasokan berkurang.
Harga kemudian bisa melonjak.
Siklusnya berputar.
Jadi, Siapa yang Menikmati Selisihnya?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan melihat harga Rp41 ribu di Sidrap dan Rp65 ribu di Makassar.
Harus dilihat harga di tingkat kandang, biaya distribusi, margin agen, margin pedagang, hingga harga eceran.
Di situlah persoalan sebenarnya berada.
Dan mungkin ini yang perlu dibuka lebih terang:
berapa harga telur ketika keluar dari kandang peternak Sidrap, berapa ketika sampai di agen, dan berapa ketika akhirnya dibeli masyarakat Makassar?
Kalau seluruh rantai itu transparan, masyarakat tidak perlu menebak-nebak.
Peternak tahu di mana margin terbentuk.
Pedagang bisa menjelaskan ongkosnya.
Konsumen memahami mengapa harga berubah.
Sebab sebutir telur memang kecil.
Tetapi di dalamnya ada cerita besar tentang pakan, peternak, distribusi, pasar, dan kesejahteraan.
Dan bagi Sidrap, yang hidup dari industri ayam petelur, cerita itu bukan sekadar soal harga sarapan.
Itu soal bagaimana sebuah daerah penghasil memastikan orang yang memproduksi telur juga ikut menikmati nilai ekonominya.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
