Sidrap, Katasulsel.com β€” Tidak ada yang istimewa dari seragam sekolah yang mereka kenakan.

Tetapi malam itu, 45 anak muda Sidrap tiba-tiba memiliki tanggung jawab yang tidak dimiliki semua pelajar.

Mereka bukan lagi sekadar siswa SMA/SMK.

Mereka adalah Paskibraka Kabupaten Sidenreng Rappang 2026.

Sabtu malam, 15 Agustus 2026, di Rumah Jabatan Bupati Sidrap, suasana berubah khidmat.

Empat puluh lima anak berdiri.

Ikrar dibacakan.

Lencana disematkan.

Naskah pengukuhan ditandatangani.

Selesai?

Belum.

Justru baru dimulai.

Karena dua hari kemudian, Senin 17 Agustus, mereka akan berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada latihan.

Lapangan upacara.

Ratusan pasang mata.

Dan satu benda yang harus mereka perlakukan dengan penuh kehormatan:

Merah Putih.

Bendera itu hanya naik beberapa menit

Begitulah yang terlihat oleh masyarakat.

Pagi atau sore 17 Agustus, pasukan bergerak.

Komando terdengar.

Langkah seragam.

Bendera ditarik.

Merah Putih sampai ke puncak.

Tepuk tangan.

Selesai.

Tetapi orang jarang menghitung apa yang terjadi sebelum itu.

Seleksi.

Latihan.

Pemusatan.

Keringat.

Kedisiplinan.

Kesalahan yang dikoreksi berkali-kali.

Dan latihan yang mungkin terasa membosankan ketika dilakukan berulang-ulang.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut perjalanan panjang itulah yang sesungguhnya menjadi modal penting bagi mereka.

β€œProsesnya panjang. Mulai dari seleksi, lalu masuk pemusatan latihan, dan malam hari ini setelah dikukuhkan. Tentu ini menjadi modal bagi anak-anakku semuanya,” ujarnya.

Jadi, yang sedang dikukuhkan malam itu sebenarnya bukan hanya pasukan.

Mereka sedang mengukuhkan hasil dari sebuah proses.

Ada satu pesan yang lebih penting daripada baris-berbaris

Syaharuddin tidak ingin 45 anak tersebut pulang setelah 17 Agustus lalu melupakan semua yang mereka dapatkan.

Sebab Paskibraka bukan tujuan akhir.

Mereka akan kembali ke sekolah.

Kembali menjadi siswa.

Belajar lagi.

Bertanding lagi dengan kehidupan.

Mengejar cita-cita.

Ada yang ingin menjadi pengusaha.

Ada yang membayangkan dirinya menjadi birokrat.

Ada yang ingin mengenakan seragam TNI.

Ada yang ingin menjadi polisi.

Bahkan ada yang bercita-cita menjadi politisi.

Mungkin hari ini masih mengenakan seragam sekolah.

Tetapi tidak ada yang tahu siapa di antara mereka yang kelak mengenakan jas dan berdiri mengambil keputusan untuk banyak orang.

Karena itulah pembinaan fisik bukan satu-satunya bekal.

Mereka juga ditempa dengan wawasan kebangsaan, kepemimpinan dan kemampuan menghadapi persoalan.

Bendera hanya latihan satu hari.

Kepemimpinan adalah latihan seumur hidup.

Ada satu kalimat Bupati yang menarik

Syaharuddin mengatakan, setelah menjalankan tugas penaikan dan penurunan bendera pada 17 Agustus, nama mereka akan tercatat dalam sejarah Paskibraka Kabupaten Sidrap.

Benar.

Mungkin bukan sejarah nasional.

Bukan nama yang masuk buku pelajaran.

Tetapi sejarah kecil tetaplah sejarah.

Karena setiap generasi meninggalkan jejaknya sendiri.

Paskibraka 2026 akan menjadi generasi yang suatu hari bisa berkata kepada anak-anak mereka:

β€œDulu, saya pernah mengibarkan Merah Putih untuk Kabupaten Sidrap.”

Dan itu bukan cerita yang bisa dibeli.

Tidak semua orang pernah mendapat kesempatan tersebut.

17-8-45: angka yang berubah menjadi cita-cita

Ada bagian lain yang justru menarik.

Syaharuddin sudah memikirkan Paskibraka tahun depan.

Ia menargetkan formasi Paskibraka Sidrap 2027 lengkap dengan komposisi 17-8-45.

17 Agustus 1945.

Tanggal yang mengubah bangsa.

Menariknya, angka itu akan menjadi target sebuah pasukan yang setiap tahun bertugas mengingatkan masyarakat tentang hari kemerdekaan.

β€œInsya Allah tahun 2027 saya akan berusaha mencarikan support anggaran supaya Pasukan Paskibraka Sidrap lengkap 17-8-45,” kata Syaharuddin.

Jadi tahun ini ada 45 anak.

Tahun depan, targetnya bukan sekadar lebih banyak.

Tetapi lebih lengkap secara simbolik.

Karena bagi Paskibraka, angka pun punya cerita.

Malam pengukuhan sebenarnya adalah malam perpisahan

Ada sisi lain yang jarang dilihat.

Malam itu mungkin menjadi salah satu malam terakhir mereka sebagai satu tim.

Setelah tugas selesai, mereka akan kembali ke sekolah masing-masing.

Kembali ke kelas.

Kembali ke kehidupan normal.

Namun ada sesuatu yang tidak ikut bubar.

Pengalaman.

Mereka sudah pernah berdiri bersama.

Pernah lelah bersama.

Pernah ditegur bersama.

Pernah belajar disiplin bersama.

Dan nanti, ketika hidup membawa mereka ke jalan masing-masing, mungkin akan ada satu momen ketika mereka bertemu kembali.

Seseorang menjadi dokter.

Yang lain pengusaha.

Yang lain tentara.

Yang lain polisi.

Yang lain pejabat.

Lalu seseorang berkata:

β€œKita dulu Paskibraka Sidrap.”

Mungkin hanya kalimat pendek.

Tetapi kenangan panjang akan kembali.

Maka jangan lihat mereka hanya sebagai pasukan pengibar bendera

Lihat mereka sebagai 45 anak muda yang sedang belajar satu hal penting:

tanggung jawab.

Bendera memang harus sampai ke puncak.

Tetapi lebih penting lagi, setelah bendera turun, mereka harus mampu membawa nilai yang sama dalam hidupnya.

Disiplin.

Keberanian.

Kepemimpinan.

Kebersamaan.

Dan tanggung jawab.

Sebab tugas mereka 17 Agustus hanya berlangsung beberapa menit.

Tetapi bekal yang dibawa dari Paskibraka seharusnya berlangsung jauh lebih lama.

Malam itu, 45 anak berdiri di Rumah Jabatan Bupati Sidrap.

Lencana terpasang.

Ikrar terucap.

Pengukuhan selesai.

Besok mereka mungkin masih anak sekolah.

Tetapi Senin pagi, ketika Merah Putih mulai dinaikkanβ€”

Sidrap akan melihat mereka dengan cara yang berbeda.

Sebab untuk sesaat, mereka bukan lagi anak-anak yang sedang mengejar cita-cita.

Mereka adalah anak-anak yang sedang menjalankan tugas untuk bangsanya. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini