JAKARTA, KATASULSEL.COM — Aktris Aurelie Moeremans kembali menjadi perhatian publik setelah merilis buku memoar berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah, sebuah karya personal yang mengangkat perjalanan hidup, trauma, hingga proses pemulihan dirinya sebagai penyintas hubungan abusif.

Meski telah resmi dirilis pada 12 Oktober 2025 dan dibagikan secara gratis dalam format digital, buku ini mulai ramai diperbincangkan publik pada awal 2026 karena isi ceritanya yang dinilai emosional, jujur, dan diangkat dari pengalaman nyata.

Lewat memoar tersebut, Aurelie membuka sisi hidup yang selama ini jarang diketahui publik. Ia menuliskan pengalaman pahit saat masih remaja, ketika harus menghadapi manipulasi emosional, kontrol berlebihan, hingga relasi tidak sehat yang membekas panjang dalam hidupnya.

Dalam unggahan media sosialnya pada 3 Januari 2026, Aurelie menegaskan buku itu ditulis dari sudut pandang korban dan menjadi bagian dari perjalanan penyembuhan dirinya.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulisnya.

Perjalanan Luka hingga Pemulihan

Broken Strings bukan sekadar memoar tentang trauma, tetapi juga cerita tentang bagaimana seseorang perlahan bangkit dari pengalaman yang pernah menghancurkan hidupnya.

Aurelie memulai kisah dari masa kecilnya di Belgia. Ia tumbuh dalam kondisi keluarga sederhana dan sempat mengalami perundungan saat masih duduk di bangku sekolah.

Saat pindah ke Indonesia, hidupnya mulai berubah. Ia memasuki dunia hiburan, dikenal lewat iklan, sinetron, hingga film, sekaligus membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Namun di balik karier yang terus menanjak, Aurelie mengisahkan bagaimana masa remajanya diwarnai pengalaman relasi yang penuh tekanan dan perlahan mengikis kebebasan serta rasa aman dalam dirinya.

Lewat buku ini, ia menggambarkan bagaimana hubungan yang terlihat penuh perhatian bisa berubah menjadi ruang manipulasi, kontrol, hingga kekerasan emosional yang berdampak panjang terhadap korban.

Ia juga menyinggung bagaimana stigma terhadap penyintas kekerasan kerap membuat korban memilih diam.

Bukan Soal Luka, Tapi Keberanian Bertahan

Di balik cerita pahit, Broken Strings justru banyak dipandang sebagai kisah tentang keberanian, pemulihan, dan upaya menerima masa lalu.

Dengan dukungan keluarga, Aurelie menuliskan proses panjang untuk berdamai dengan trauma yang pernah ia alami.

“Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku,” tulisnya dalam memoar tersebut.

……………

Buku ini sekaligus menjadi pesan bahwa pengalaman pahit yang pernah dianggap memalukan tidak selalu harus disembunyikan, tetapi bisa menjadi kekuatan untuk pulih dan memberi harapan bagi orang lain yang mengalami hal serupa.

Aurelie juga menegaskan memoar ini tidak dibuat untuk menyerang siapa pun. Sejumlah nama dan detail lokasi dalam buku disamarkan demi menjaga privasi.

Tersedia Gratis dalam Dua Bahasa

Sebagai bagian dari upaya menjangkau lebih banyak pembaca, Broken Strings tersedia gratis dalam format e-book berbahasa Indonesia dan Inggris.

Melalui buku ini, Aurelie Moeremans tak hanya membagikan kisah hidupnya, tetapi juga menyuarakan satu hal penting: bertahan, pulih, dan bangkit adalah bentuk keberanian.

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.