Oleh: Edy Basri
ADA banyak cara menghabiskan malam.
Sebagian orang memilih beristirahat setelah seharian bekerja. Sebagian lagi menikmati waktu bersama keluarga.
Namun Kamis malam itu (23/7/2026), Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif memilih cara yang berbeda.
Ia begadang.
Bukan karena pertandingan sepak bola.
Bukan pula karena menghadiri pesta atau seremoni.
Ia begadang demi petani.
Malam itu ia duduk bersama puluhan petani di Desa Damai, Kecamatan Watang Sidenreng. Tempatnya sederhana. Bukan ruang rapat. Bukan hotel. Hanya sebuah rumah warga yang mendadak menjadi ruang diskusi tentang masa depan sawah.
Topiknya satu: air.
Atau lebih tepatnya, kekurangan air.
Kemarau mulai terasa. Padi yang ditanam sejak Mei kini memasuki usia lebih dari dua bulan. Pada fase itulah tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup. Jika terlambat, hasil panen bisa terancam.
Petani tahu itu.
Syaharuddin juga tahu.
Karena itulah ia datang.
Saya membayangkan, tidak semua kepala daerah mau menghabiskan malamnya membahas sumur bor, jaringan listrik, dan debit air sawah.
Topik-topik itu mungkin terdengar membosankan bagi sebagian orang.
Tetapi tidak bagi daerah seperti Sidrap.
Di sini, sawah bukan sekadar hamparan hijau.
Sawah adalah dapur ribuan keluarga.
Sawah adalah sumber kehidupan.
Maka ketika sawah mulai haus, seorang bupati ikut gelisah.
Dalam pertemuan itu terungkap bahwa sejumlah sumur bor yang dibangun pemerintah sebenarnya sudah menghasilkan air yang cukup baik. Debitnya kuat. Airnya tersedia.
Masalahnya justru berada di atas tanah.
Listrik.
Sebagian sumur sudah bisa beroperasi karena jaringan listrik telah masuk. Sebagian lainnya masih menunggu penyambungan.
Ironis memang.
Air tersedia.
Pompa tersedia.
Pipa tersedia.
Tetapi air belum bisa mengalir maksimal karena listrik belum menyala.
Malam itu Syaharuddin tidak ingin persoalan itu berlama-lama.
Ia meminta Dinas Pertanian, camat, kepala desa, hingga penyuluh segera mendata seluruh titik sumur bor yang siap digunakan maupun yang masih membutuhkan jaringan listrik.
“Yang sudah ada listriknya segera difungsikan. Yang belum, kita carikan solusi bersama PLN,” tegasnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi petani, setiap hari yang terlewat tanpa air adalah hari yang bisa mengurangi hasil panen.
Karena itu pembahasan berlangsung serius.
Namun tidak kaku.
Sesekali terdengar tawa.
Sesekali muncul celetukan khas orang kampung yang akrab dengan sawah.
Syaharuddin pun terlihat menikmati suasana itu.
Ia lebih banyak berdialog daripada berpidato.
Lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Mungkin karena ia paham, solusi pertanian tidak selalu lahir dari meja kantor.
Kadang justru lahir dari percakapan malam bersama petani.
Menjelang akhir pertemuan, ia mengingatkan pentingnya kebersamaan menghadapi musim kemarau. Pola tanam harus diatur. Pembagian air harus disepakati. Semua pihak harus saling membantu.
Pemerintah hadir, katanya.
Petani juga harus tetap kompak.
Malam semakin larut.
Sebagian petani pulang dengan membawa harapan baru.
Sebagian lagi masih berbincang di teras rumah.
Sementara Syaharuddin melanjutkan tugasnya.
Bagi sebagian orang, begadang mungkin hanya mengurangi waktu tidur.
Tetapi malam itu di Desa Damai, begadang bisa berarti menyelamatkan sawah.
Dan di daerah yang hidup dari pertanian seperti Sidrap, tidak banyak pekerjaan yang lebih penting daripada itu.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
