BARRU, Katasulsel.com – Di saat banyak daerah menggelar festival dengan pola yang itu-itu saja, Kabupaten Barru justru memainkan langkah berbeda di Makkunrai 2026. Bukan sekadar panggung budaya, tapi seperti “membuka arsip lama” yang selama ini jarang disentuh: perempuan pernah memimpin.
Dalam pembukaan acara, sorotan tidak hanya pada atraksi atau seremoni, melainkan pada satu narasi yang cukup mengguncang cara pandang umum—bahwa dalam sejarah Barru, perempuan tidak hanya berada di belakang layar, tetapi pernah berada di pucuk kekuasaan.
Ini bukan cerita populer yang sering diulang. Justru sebaliknya, ia seperti potongan sejarah yang lama “terpendam”, lalu dimunculkan kembali ke permukaan publik.
Di sinilah letak keunikan Makkunrai 2026: festival ini tidak hanya merayakan budaya, tapi juga “mengoreksi ingatan kolektif”.
Di tengah kuatnya stereotip kepemimpinan yang maskulin, Barru justru menampilkan fakta bahwa kepemimpinan perempuan pernah menjadi bagian dari sistem sosialnya—bahkan bertahan dalam waktu yang tidak singkat.
Narasi ini terasa kontras dengan kondisi kekinian, di mana isu kesetaraan gender masih terus diperjuangkan di berbagai lini. Barru seolah memberi pesan diam-diam: bahwa apa yang diperjuangkan hari ini, ternyata pernah terjadi di masa lalu.
Yang menarik, pendekatan ini bukan disampaikan dengan cara akademis atau berat. Ia dibungkus dalam event budaya—membuat pesan sejarah terasa lebih dekat dan mudah diterima publik.
Makkunrai 2026 pun berubah fungsi: dari sekadar agenda tahunan menjadi “alat komunikasi identitas daerah”.
Di balik gemerlap acara, ada strategi yang lebih dalam—membangun citra Barru bukan hanya lewat potensi ekonomi atau geografis, tetapi juga melalui kekuatan cerita.
Dan dalam persaingan antar daerah yang semakin ketat, cerita seperti ini bisa menjadi “pembeda” yang kuat.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Barru punya potensi, tetapi bagaimana ia menceritakan dirinya.
Lewat Makkunrai 2026, Barru memilih satu cara yang cukup berani: bukan menambah cerita baru, tapi menghidupkan kembali cerita lama—yang ternyata lebih kuat dari yang dibayangkan.(*)
