Jakarta, Katasulsel.com — Ada yang menarik dalam malam penganugerahan Disway Top Regional Leader Awards 2026 di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Di antara deretan kepala daerah yang mendapat apresiasi nasional, nama Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, muncul sebagai penerima penghargaan kategori Penggerak Ketahanan Pangan Daerah.

Penghargaan itu memang diterima oleh Adli Lukman yang mewakili Bupati Sidrap. Namun sesungguhnya, penghargaan tersebut lahir dari cerita yang lebih panjang. Cerita tentang sebuah daerah yang identik dengan hamparan sawah, suara mesin panen, dan petani yang setiap musim berjuang memastikan beras tetap tersedia di meja makan masyarakat.

Tidak berlebihan jika penghargaan ini disebut sebagai penghargaan untuk kerja lapangan.

Bukan penghargaan yang datang dari satu presentasi atau satu program sesaat.

Melainkan hasil dari proses yang dinilai secara berlapis oleh penyelenggara.

Bukan sekadar penghargaan

Bagi sebagian orang, Disway Top Regional Leader Awards mungkin terdengar sebagai ajang seremoni biasa.

Padahal, penghargaan yang baru pertama kali digelar oleh Disway National Network itu dirancang untuk mencari kepala daerah yang benar-benar mampu menunjukkan dampak kepemimpinannya.

Tema yang diusung pun tidak main-main: “Mendorong Daerah Sebagai Motor Penggerak Ekonomi Nasional.”

Artinya, yang dicari bukan sekadar pemimpin yang populer.

Tetapi pemimpin yang mampu menggerakkan daerahnya menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Karena itu, proses penilaiannya melibatkan pengumpulan data primer dan sekunder, survei publik, audit independen, hingga penilaian dewan pakar dan pimpinan media.

Indikatornya luas. Mulai dari pembangunan daerah, tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, reformasi birokrasi, penguatan ekonomi, pengembangan UMKM, hingga ketahanan pangan.

Sidrap menang di sektor yang paling dekat dengan rakyat

Menariknya, kategori yang diraih Syaharuddin Alrif bukan sektor yang bersifat administratif.

Bukan pula kategori yang hanya berbicara tentang angka investasi.

Ia memperoleh penghargaan sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Daerah.

Kategori yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebab ketika berbicara ketahanan pangan, yang dibahas bukan hanya soal produksi padi.

Tetapi bagaimana daerah mampu menjaga pasokan pangan, mendukung petani, meningkatkan produktivitas, serta memastikan sektor pertanian tetap menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Dan untuk urusan itu, Sidrap memang memiliki reputasi panjang.

Kabupaten ini sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung beras terbesar di Sulawesi Selatan. Dari daerah inilah ribuan ton hasil pertanian setiap tahun mengalir untuk memenuhi kebutuhan pangan berbagai wilayah.

Pengakuan untuk kerja yang terlihat

Founder Disway Group, Dahlan Iskan, dalam sambutannya menyebut tantangan kepala daerah saat ini semakin berat.

Menurutnya, pemimpin daerah dituntut mampu berinovasi sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, penghargaan diberikan kepada mereka yang dinilai berhasil menciptakan perubahan.

Pernyataan Dahlan tersebut seolah menjadi penjelasan mengapa nama Syaharuddin Alrif masuk dalam daftar penerima penghargaan tahun ini.

Sebab keberhasilan menjaga dan memperkuat sektor pangan bukan pekerjaan yang hasilnya bisa terlihat dalam semalam.

Ia membutuhkan kebijakan, konsistensi, keberpihakan kepada petani, serta kemampuan menggerakkan seluruh perangkat daerah.

Dari Sidrap untuk Indonesia

Penghargaan ini pada akhirnya bukan hanya milik seorang bupati.

Ia juga menjadi pengakuan terhadap peran Sidrap sebagai daerah penyangga pangan nasional.

Ketika sebuah kabupaten yang dikenal dengan sektor pertaniannya mendapat apresiasi di tingkat nasional, pesan yang muncul menjadi jelas.

Bahwa sawah, petani, dan pangan tetap menjadi fondasi penting pembangunan Indonesia.

Dan pada malam penghargaan itu, nama Sidrap kembali disebut.

Bukan karena sensasi.

Bukan karena kontroversi.

Melainkan karena kontribusi. Sebuah penghargaan yang lahir dari kerja yang tumbuh di pematang sawah, lalu mendapat panggung di ibu kota. (edy)