Oleh: Edy Basri
Pimred Katasulsel.com

SAYA menyimak habis pidato perpisahan AKBP Fantry Taherong malam tadi.

Biasanya sambutan seperti itu mudah ditebak.

Ucapan terima kasih.

Permohonan maaf.

Cerita keberhasilan.

Lalu salam perpisahan.

Selesai.

Ternyata Fantry memilih jalan lain.

Ia justru berbicara tentang seseorang yang masih akan tinggal di Sidrap.

Namanya: Syaharuddin Alrif.

Bupati Sidrap.

Fantry berdiri di atas panggung.

Ia ditemani istri tercinya, Ny. Dian Fantry Taherong.

Wajahnya santai. Suaranya datar. Tidak ada nada menggurui.

Tapi kalimat yang keluar sesaat kemudian membuat banyak orang menoleh ke arah kursi bupati. Termasuk saya.

“Pak Bupati harus jaga kesehatan.”

Begitu inti pesannya.

Saya tersenyum.

Karena itu bukan kalimat yang biasa keluar dalam acara seremonial pejabat.

Biasanya yang terdengar adalah pujian.

Malam itu justru yang muncul adalah kekhawatiran.

Dan kekhawatiran itu terdengar tulus.

Fantry lalu bercerita.

Selama bertugas di Sidrap, ia sering melihat sendiri bagaimana Syaharuddin bekerja.

Bukan mendengar cerita orang.

Bukan membaca laporan.

Melihat sendiri.

Kadang sampai lewat tengah malam.

Kadang sampai dini hari.

Kadang bahkan ketika orang-orang yang mendampinginya sudah kehabisan tenaga.

Bupatinya masih bergerak.

Masih menerima tamu.

Masih rapat.

Masih menelepon.

Masih memikirkan sesuatu.

Fantry mengaku heran.

Saya tidak.

Karena cerita seperti itu sudah lama beredar di Sidrap.

Kalau ada daerah yang jalannya rusak, bupati datang.

Kalau ada sawah yang bermasalah, bupati datang.

Kalau ada panen, bupati datang.

Kalau ada kegiatan masyarakat, bupati datang.

Kadang saya bertanya-tanya sendiri.

Ini bupati atau staf protokol yang sedang mengejar absensi?

Tetapi malam itu Fantry melihat sisi lain.

Ia melihat manusia di balik jabatan.

Dan manusia itu ternyata jarang tidur.

Di situlah letak menariknya.

Seorang kapolres yang sedang berpamitan tidak berbicara soal keamanan.

Tidak berbicara soal kriminalitas.

Tidak berbicara soal prestasi.

Yang ia bicarakan justru soal tidur.

Sesederhana itu.

Karena mungkin semakin bertambah usia, kita mulai mengerti satu hal.

Yang paling mahal dalam hidup bukan jabatan.

Bukan kekuasaan.

Bukan popularitas.

Melainkan kesehatan.

Fantry lalu mengucapkan kalimat yang membuat saya mengangguk pelan.

“Manusia tidak bisa disamakan dengan robot.”

Benar.

Tapi saya rasa masalahnya bukan di situ.

Masalahnya, banyak pemimpin merasa dirinya memang robot.

Tubuhnya dianggap sanggup terus dipacu.

Mata dipaksa tetap terbuka.

Jadwal ditambah.

Agenda diperbanyak.

Istirahat dikurangi.

Sampai suatu hari tubuh itu mengirim surat protes.

Dan biasanya surat itu datang tanpa pemberitahuan.

Malam itu Fantry seperti sedang mengirim pesan sebelum surat protes itu datang.

Bukan sebagai mantan Kapolres.

Bukan sebagai pejabat.

Melainkan sebagai orang yang selama dua tahun menyaksikan langsung ritme kerja seorang kepala daerah.

Saya melihat Syaharuddin hanya tersenyum mendengar pesan itu.

Seperti orang yang tahu dirinya memang bersalah.

Setidaknya dalam urusan tidur.

Entah setelah malam itu beliau akan mengurangi aktivitas atau tidak.

Entah nasihat itu akan dipatuhi atau tidak.

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, dari sekian banyak sambutan malam itu, publik kemungkinan tidak akan mengingat seluruh isi pidato.

Mereka hanya akan mengingat satu bagian.

Satu kalimat.

Satu peringatan.

Satu kekhawatiran.

Dari seorang sahabat yang sedang berpamitan.

“Pak Bupati, jangan lupa tidur.”

Kadang kalimat paling pendek memang yang paling sulit dijalankan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini