Jakarta, Katasulsel.com — Dari luar, demonstrasi di depan Gedung DPR RI Kamis (27/8/2026) terlihat seperti lautan massa.
Namun dari dekat, gambarnya ternyata lebih beragam.
Ada mahasiswa. Ada perwakilan organisasi masyarakat. Ada warga biasa. Ada pula orang-orang yang datang tanpa identitas kelompok yang jelas.
Bahkan, sebagian massa lebih banyak duduk santai di trotoar sambil menikmati jajanan.
Lalu situasi berubah ketika sebagian massa berhasil masuk mendekati gerbang DPR.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kedatangan massa berlangsung bertahap sejak sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Mereka tidak datang dalam satu rombongan besar, melainkan bergelombang.
Perwakilan organisasi masyarakat, mahasiswa, maupun masyarakat umum datang secara terpisah.
Menariknya, dari pengamatan di lokasi, tidak terlihat massa yang mengenakan atribut mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Sementara sejumlah mahasiswa lain datang tanpa mengenakan jaket almamater atau identitas kampus.
Kondisi itu membuat komposisi massa di lapangan menjadi cukup beragam dan tidak seluruhnya mudah diidentifikasi.
Celah Itu Bernama Ambulans
Pengamanan di sekitar kompleks DPR terbilang ketat.
Massa masuk dari dua sisi yang masing-masing dijaga lapisan personel Brimob.
Namun, barikade manusia rupanya memiliki satu masalah klasik: ambulans.
Beberapa kali ambulans keluar-masuk kawasan tersebut.
Pada ambulans pertama dan kedua, celah yang terbuka masih bisa ditutup kembali.
Tetapi ketika ambulans berikutnya melintas, celah di sisi dekat flyover dimanfaatkan sebagian massa untuk bergerak masuk.
Dari titik itu, konsentrasi massa semakin mendekati gerbang kompleks parlemen.
Situasi kemudian berkembang cepat.
Massa Tak Sebanyak Aparat
Satu hal lain yang cukup mencolok dari pantauan lapangan: jumlah massa di lokasi terlihat tidak sebanyak personel keamanan yang disiagakan.
Aparat tampak berlapis.
Sementara massa justru tersebar.
Sebagian berdiri mendekati pagar.
Sebagian duduk di trotoar.
Sebagian lagi tampak lebih sibuk menikmati makanan dan minuman yang dijajakan di sekitar lokasi.
Gambaran ini membuat demonstrasi tersebut tidak sepenuhnya terlihat seperti satu kerumunan yang bergerak dalam satu komando.
Tetapi situasi berubah ketika massa yang berada di depan gerbang mulai bertambah.
Botol, Ban dan Pagar
Tak lama setelah sebagian mahasiswa dan peserta aksi berhasil mendekati area gerbang, dari pengamatan di lokasi terlihat botol dan ban mulai dibakar.
Di saat bersamaan, sejumlah orang terlihat berusaha memanjat pagar.
Kerusakan pada bagian pagar kemudian mulai terlihat.
Namun, penting dicatat, pengamatan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh peserta aksi terlibat dalam tindakan tersebut. Massa di lokasi sangat beragam dan tidak semuanya terlihat melakukan tindakan yang sama.
Ada yang hanya menonton.
Ada yang duduk.
Ada yang mundur.
Dan ada pula yang memilih menjauh ketika situasi mulai memanas.
Ada Pencopet di Tengah Demonstrasi
Ironisnya, ancaman bagi peserta aksi ternyata bukan hanya aparat dan situasi kericuhan.
Beberapa kali massa justru bergerak mundur setelah terdengar informasi mengenai adanya pencopet di tengah kerumunan.
Peserta aksi saling mengingatkan agar menjaga telepon seluler, dompet dan barang pribadi.
Di tengah demonstrasi yang membawa isu besar tentang pemberantasan korupsi dan RUU Perampasan Aset, muncul ironi kecil di tengah kerumunan:
orang datang menuntut agar negara memberantas korupsi, tetapi sebagian lainnya justru harus sibuk menjaga kantong sendiri dari pencopet.
Pengeras Suara Terbatas
Hal lain yang terasa di lapangan adalah penggunaan pengeras suara yang relatif terbatas.
Tidak seluruh area massa terdengar oleh satu pusat komando suara.
Akibatnya, informasi dan seruan tidak selalu terdengar merata hingga ke bagian belakang kerumunan.
Situasi tersebut turut membuat massa terlihat bergerak secara sporadis.
Dari satu titik terdengar seruan.
Di titik lain, massa hanya duduk.
Di depan gerbang, situasi memanas.
Beberapa meter di belakangnya, warga masih membeli makanan.
Demonstrasi hari itu akhirnya memperlihatkan wajah yang jauh lebih kompleks daripada sekadar angka jumlah massa.
Ada aspirasi.
Ada mahasiswa.
Ada masyarakat.
Ada aparat dalam jumlah besar.
Ada warga yang sekadar menonton.
Ada ambulans yang membuka celah.
Ada pagar yang rusak.
Dan ada pula pencopet yang membuat peserta aksi sendiri memilih mundur.
Pada akhirnya, yang terlihat di depan DPR bukan satu wajah massa, melainkan banyak wajah dalam satu kerumunan.
Dan justru karena itulah, setiap tindakan di lapangan perlu dibaca dengan hati-hati: siapa yang menyampaikan aspirasi, siapa yang sekadar hadir, dan siapa yang melakukan tindakan melanggar hukum tidak bisa begitu saja disamakan.
(*)
