Sidrap, katasulsel.com – Di banyak tempat, suara durian jatuh hanya menandakan buah telah matang.

Namun di Desa Betao Riase, Kecamatan Pitu Riawa, suara itu memiliki arti lain.

Itu adalah suara uang.

Setiap kali durian jatuh dari pohonnya, roda ekonomi desa ikut berputar. Bukan dalam jumlah kecil, melainkan hingga ratusan juta rupiah setiap hari.

Saat musim panen tiba, desa yang berada di kawasan pegunungan Sidrap ini berubah menjadi “pasar durian raksasa” yang nyaris tak pernah sepi.

Pedagang datang dari berbagai daerah. Mobil bak terbuka hilir mudik masuk kebun. Pengunjung berdatangan hanya untuk satu tujuan: berburu durian segar yang baru saja jatuh dari pohonnya.

Kepala Desa Betao Riase, Suardi Laupe, mengungkapkan bahwa selama musim panen berlangsung, transaksi durian di desanya bisa mencapai sekitar Rp500 juta per hari.

Jika dihitung selama musim panen sekitar dua bulan, total perputaran uang diperkirakan menembus Rp30 miliar.

Angka yang bahkan setara dengan nilai proyek besar di sejumlah daerah.

Desa yang Hidup dari Buah Jatuh

Berbeda dengan daerah lain yang mengandalkan industri atau perdagangan, sebagian besar warga Betao Riase menggantungkan hidup dari hasil perkebunan.

Durian menjadi primadona.

Disusul rambutan dan langsat yang juga memberikan pemasukan signifikan bagi masyarakat.

Menariknya, hampir seluruh durian dijual dalam kondisi segar.

Durian yang jatuh pada malam hari biasanya sudah berpindah tangan ke pembeli pada pagi hari. Begitu pula yang jatuh pagi, akan habis terjual sebelum sore tiba.

Siklus ekonomi berlangsung sangat cepat.

Tidak ada gudang besar.

Tidak ada pabrik pengolahan.

Yang ada hanyalah pohon, petani, dan pembeli yang terus berdatangan.

Dari Kebun Menjadi Destinasi

Fenomena lain yang mulai terlihat adalah meningkatnya kunjungan wisatawan.

Banyak pecinta durian memilih datang langsung ke Betao Riase daripada membeli di pasar.

Mereka ingin merasakan sensasi makan durian tepat di bawah pohonnya, ditemani udara pegunungan yang sejuk dan suasana pedesaan yang masih alami.

Setiap akhir pekan, kawasan ini dipadati pengunjung dari berbagai daerah.

Sebagian bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam demi mencicipi durian yang dikenal memiliki cita rasa khas.

Melihat potensi tersebut, pemerintah desa mulai menyiapkan konsep wisata buah agar Betao Riase tidak hanya dikenal sebagai penghasil durian, tetapi juga sebagai destinasi wisata musiman unggulan di Sidrap.

Bukan Tambang, Bukan Pabrik

Yang membuat Betao Riase menarik adalah sumber ekonominya.

Tidak ada tambang.

Tidak ada kawasan industri.

Namun sebuah desa mampu menghasilkan perputaran uang hingga puluhan miliar rupiah hanya dari buah yang jatuh dari pohon.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, Betao Riase menunjukkan bahwa kekayaan desa terkadang tidak berada di bawah tanah.

Tetapi menggantung di atas kepala, menunggu matang dan jatuh pada waktunya.