Sidrap, katasulsel.com – Ketika AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H. pertama kali menginjakkan kaki di Mapolres Sidrap pada Juli 2024, tantangan yang dihadapinya tidaklah ringan.
Ia tidak hanya dituntut menjaga keamanan daerah yang dikenal dinamis, tetapi juga harus membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Hampir dua tahun kemudian, nama Fantry Taherong meninggalkan cerita yang berbeda.
Bukan semata-mata tentang berapa banyak kasus yang diungkap atau berapa pelaku yang ditangkap.
Melainkan tentang bagaimana seorang Kapolres berupaya mengubah budaya kerja, wajah pelayanan, dan hubungan polisi dengan masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, Polres Sidrap perlahan bergerak ke arah yang lebih terbuka, lebih humanis, dan lebih dekat dengan warga.
Fantry tampaknya memahami bahwa di era digital, keberhasilan polisi tidak lagi hanya diukur dari operasi penegakan hukum. Kepercayaan publik juga menjadi ukuran penting.
Karena itu, ia memberi ruang besar kepada fungsi kehumasan untuk membangun komunikasi yang lebih aktif dengan masyarakat.
Hasilnya mulai terlihat.
Citra Polres Sidrap di ruang digital mengalami perubahan signifikan. Berbagai kegiatan pelayanan, pengamanan, hingga keberhasilan pengungkapan kasus tersampaikan lebih cepat dan lebih transparan kepada publik.
Namun jejak Fantry tidak berhenti di sana.
Di lingkungan internal, ia dikenal sebagai pimpinan yang gemar memberi penghargaan kepada anggotanya.
Bagi sebagian orang, selembar piagam mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi personel kepolisian yang bertugas siang malam menjaga keamanan masyarakat, penghargaan adalah bentuk pengakuan bahwa pengabdian mereka dihargai.
Tak heran jika selama masa kepemimpinannya, budaya apresiasi tumbuh cukup kuat di tubuh Polres Sidrap.
Anggota yang berprestasi diberi penghargaan.
Personel yang menunjukkan dedikasi luar biasa mendapat perhatian.
Bahkan anggota yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan fisik pun tak luput dari apresiasi.
Di bidang operasional, sejumlah capaian penting juga lahir.
Satlantas Polres Sidrap berhasil mencatatkan prestasi tingkat Polda Sulsel dalam pengelolaan data operasi lalu lintas berbasis digital.
Sementara Satresnarkoba menorehkan keberhasilan dalam sejumlah pengungkapan kasus besar, termasuk perkara yang berujung pada apresiasi dari tingkat Polda.
Tetapi mungkin warisan terbesar Fantry Taherong bukanlah penghargaan itu.
Melainkan upayanya menanamkan satu pesan sederhana kepada anggotanya:
Bahwa polisi tidak cukup hanya hadir ketika ada masalah.
Polisi juga harus hadir sebagai bagian dari solusi.
Kini, ketika tongkat estafet kepemimpinan mulai bergeser ke tangan pejabat baru, Sidrap akan mengingat satu fase penting dalam perjalanan Polresnya.
Fase ketika seorang perwira bergelar doktor hukum mencoba membangun kepolisian yang tegas dalam penegakan hukum, namun tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
Dan seperti semua pemimpin yang meninggalkan jejak, Fantry Taherong mungkin akan beranjak dari kursi Kapolres Sidrap.
Tetapi, cerita tentang apa yang dibangunnya akan tetap tertinggal. (edy)
