Wajo, katasulsel.com – Di Pilkada Wajo 2024, Andi Rosman tidak berangkat dari satu partai. Ia menang dengan dukungan “koalisi gajah” yang terdiri dari 10 partai politik, sebuah kekuatan politik yang nyaris mencakup seluruh spektrum kekuatan parlemen dan non-parlemen di Kabupaten Wajo.

Gerindra, Golkar, NasDem, PKB, Demokrat, dan PDI Perjuangan menjadi partai pengusung utama. Sementara PPP, Hanura, PSI, Perindo, dan Partai Buruh turut memperkuat barisan pendukung pasangan Andi Rosman–dr. Baso Rahmanuddin (AR-Rahman).

Koalisi besar itulah yang mengantar AR-Rahman memenangkan Pilkada dan kemudian dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Wajo.

Namun, hampir dua tahun setelah kontestasi politik berakhir, sebuah langkah baru muncul yang menarik perhatian para pengamat politik lokal.

Andi Rosman kini resmi bergabung dengan Partai Gerindra. Kartu Tanda Anggota (KTA) diterimanya langsung di Kantor DPC Gerindra Wajo di Sengkang, Jumat (26/6/2026).

Secara administratif, perpindahan ini mungkin terlihat sederhana. Hanya sebuah kartu anggota partai. Namun secara politik, langkah tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih besar.

Sebab, Andi Rosman bukan sekadar kepala daerah. Ia merupakan figur yang berhasil menyatukan sedikitnya 10 partai dalam satu barisan politik pada Pilkada lalu.

Ketika figur dengan daya tarik politik seperti itu memilih berlabuh ke satu partai tertentu, maka dampaknya tidak hanya berhenti pada status keanggotaan.

Bagi Gerindra, bergabungnya Andi Rosman dapat dibaca sebagai tambahan energi politik menjelang Pemilu 2029. Partai berlambang kepala Garuda itu kini memiliki kombinasi antara mesin partai dan figur kepala daerah yang sedang memegang kendali pemerintahan.

Jika selama ini Gerindra menjadi salah satu kekuatan utama dalam koalisi AR-Rahman, maka kini hubungan itu memasuki fase baru: dari sekadar mitra politik menjadi rumah politik resmi sang bupati.

Wakil Ketua DPC Gerindra Wajo, Herman Arief, bahkan secara terbuka menyebut kehadiran Andi Rosman sebagai “amunisi baru” yang akan memperkuat langkah partai menuju 2029.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan.

Dalam politik lokal, figur kepala daerah sering kali menjadi magnet elektoral yang mampu mengonsolidasikan jaringan hingga tingkat desa. Pengaruh itu tidak selalu identik dengan kekuasaan formal, tetapi juga mencakup jaringan sosial, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, hingga komunitas akar rumput.

Di sisi lain, langkah Andi Rosman juga memunculkan pertanyaan menarik: bagaimana posisi partai-partai lain yang dahulu berada dalam koalisi kemenangan AR-Rahman?

Apakah bergabungnya sang bupati ke Gerindra hanya sebatas pilihan personal sebagai kader partai, atau akan berpengaruh terhadap konfigurasi politik menjelang Pemilu dan Pilkada berikutnya?

Jawabannya mungkin belum terlihat hari ini.

Namun satu hal yang pasti, keputusan Andi Rosman menerima KTA Gerindra telah mengirimkan sinyal politik yang kuat.

Jika Pilkada 2024 dimenangkan dengan kekuatan 10 partai, maka menuju 2029 perhatian publik mulai tertuju pada satu partai yang kini menjadi tempat bernaung resmi Bupati Wajo.

Dan dalam politik, sering kali sebuah kartu anggota lebih dari sekadar kartu. Ia bisa menjadi penanda arah baru sebuah kekuatan. (*)

Topik Populer: Berita Wajo Hari Ini