Wajo, Katasulsel.com β Benang-benang tipis itu tidak bergerak sendiri. Di hadapan alat tenun, tangan penenun mengatur tarikan, menyusun pola, lalu mengulanginya. Sedikit saja ritmenya berubah, susunan benang ikut bergeser.
Dari pekerjaan yang berulang itu, kain sutera Sengkang lahir.
Di Kabupaten Wajo, menenun bukan sekadar membuat kain. Keterampilan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bugis dan digunakan dalam pakaian adat, acara adat, serta berbagai perhelatan masyarakat.
Tenun Sutera Sengkang juga telah memperoleh pengakuan Indikasi Geografis. Dokumen Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mencatat produk tersebut sebagai kerajinan tangan asal Kabupaten Wajo yang proses pembuatannya masih melibatkan tenaga dan alat tradisional.
Namun, mempertahankan sutera tidak sesederhana mempertahankan alat tenun.
Di belakang selembar kain terdapat rantai produksi yang panjang. Ada tanaman murbei sebagai pakan ulat sutera, budidaya ulat, kokon, pengolahan benang, penenunan, hingga pemasaran. Ketika salah satu bagian terganggu, pekerjaan di bagian lain ikut terdampak.
Persoalan itu pernah muncul dalam perkembangan persuteraan Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah mencatat keterbatasan bahan baku dan mahalnya biaya produksi sebagai bagian dari tantangan industri sutera. Wajo sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu sentra persuteraan di Sulawesi Selatan.
Pemerintah kemudian mendorong penguatan kembali rantai tersebut. Pada 2022, Unit Pengelolaan Sutera di Sempange, Desa Pakkana, Kecamatan Tana Sitolo, Wajo, diresmikan untuk mendukung pengembangan persuteraan. Program tersebut disertai bantuan bibit murbei dan fasilitas produksi.
Di tingkat penenun, persoalannya berbeda lagi.
Kain harus tetap dibuat ketika selera pasar berubah. Motif perlu mengikuti perkembangan tanpa kehilangan ciri. Produk juga harus menemukan pembeli di tengah cara berdagang yang semakin bergeser ke ruang digital.
Sejumlah pelaku usaha sutera Wajo juga mulai memanfaatkan pemasaran daring. Produk yang sebelumnya banyak berputar di pasar lokal dapat diperkenalkan kepada pembeli dari luar daerah.
Di titik ini, sutera Wajo mempertemukan dua dunia. Di satu sisi, ada alat dan cara menenun yang diwariskan. Di sisi lain, ada pasar yang terus berubah.
Status Indikasi Geografis mengikat Tenun Sutera Sengkang dengan wilayah asalnya. Pengakuan tersebut sekaligus memperkuat posisi produk sebagai bagian dari identitas kerajinan Wajo.
Tetapi pekerjaan paling dasar tetap berlangsung di depan alat tenun.
Benang masuk, ditarik, disilangkan, lalu dirapatkan. Pola perlahan muncul. Penenun mengulang gerakan yang sama sampai kain mencapai ukuran yang diinginkan.
Di Sengkang, mungkin yang paling mudah dikenali dari sutera adalah motifnya. Yang lebih sulit terlihat adalah berapa banyak gerakan tangan yang dibutuhkan untuk membuat satu lembar kain.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
