Wajo, Katasulsel.com – Bagi sebagian orang, Danau Tempe mungkin hanya hamparan air yang luas di Wajo.
Bagi nelayan, ceritanya berbeda.
Sebelum matahari terlalu tinggi, jaring sudah dilempar. Perahu bergerak di atas air. Hasil tangkapan kemudian dibawa pulang, dijual, atau diolah menjadi ikan asin.
Di situlah danau menjadi lebih dari sekadar bentang alam.
Ia menjadi tempat orang mencari makan.
Danau Tempe sejak lama dikenal sebagai salah satu ruang perikanan masyarakat Wajo. Nelayan menggunakan alat tangkap seperti lanra untuk mencari ikan. Di kawasan ini juga dikenal rumah apung yang digunakan masyarakat nelayan sebagai tempat tinggal sekaligus menjalankan aktivitas ekonomi di atas air.
Ikan menjadi bagian penting dari kehidupan di sekitarnya.
Danau Tempe memiliki sejumlah jenis ikan air tawar, termasuk ikan bungo atau Glossogobius cf aureus yang disebut sebagai salah satu ikan yang jarang ditemukan di tempat lain. Hasil perikanan dari danau ini juga sejak lama diolah menjadi ikan asin dan dipasarkan hingga ke luar daerah.
Ada pula cara masyarakat memanfaatkan ekosistem danau yang tidak ditemukan dalam pola perikanan biasa.
Salah satunya bungka toddo.
Dalam praktik tersebut, masyarakat memanfaatkan eceng gondok sebagai tempat berkembangnya organisme kecil yang kemudian menjadi makanan alami ikan. Dengan cara itu, ikan dibesarkan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pakan buatan.
Danau menyediakan ruang.
Alam menyediakan makanan.
Nelayan mengambil hasilnya.
Rantai sederhana itu telah berlangsung lama.
Namun, danau juga mengalami perubahan.
Penelitian yang pernah dilakukan LIPI mencatat sedimentasi menjadi salah satu persoalan utama Danau Tempe. Dalam analisis selama sekitar 20 tahun, rata-rata endapan yang terbentuk disebut mencapai sekitar 519 ribu meter kubik setiap tahun. Pada saat yang sama, hasil tangkapan ikan dilaporkan mulai menurun.
Perubahan tersebut membuat persoalan Danau Tempe tidak berhenti pada berapa banyak ikan yang bisa ditangkap.
Ada ekosistem yang harus tetap bekerja.
Ada nelayan yang bergantung padanya.
Ada ikan yang membutuhkan ruang hidup.
Dan ada masyarakat yang selama bertahun-tahun membangun aktivitas ekonomi di sekitar air.
Pemerintah Kabupaten Wajo juga masih menempatkan Danau Tempe sebagai bagian dari kehidupan perikanan daerah. Pada Juni 2025, sebanyak 80 ribu benih ikan ditebar di Danau Tempe. Pemerintah menyebut kegiatan tersebut ditujukan antara lain untuk masyarakat yang menjadikan danau sebagai sumber mata pencaharian.
Data pemerintah daerah juga menunjukkan aktivitas perikanan darat di Kecamatan Tempe mencakup perairan danau. Pada 2017, produksi perikanan darat Kecamatan Tempe tercatat 4.453, dengan 4.058 berasal dari danau.
Angka itu memang berasal dari catatan beberapa tahun lalu.
Tetapi ada sesuatu yang tetap terlihat dari sana: danau bukan ruang kosong.
Di atas air, nelayan bekerja.
Di tepiannya, hasil tangkapan bergerak ke pasar.
Di rumah-rumah, ikan dapat diolah menjadi makanan.
Dan di tengah danau, kehidupan berlangsung mengikuti naik-turunnya air.
Karena itu, ketika orang berbicara tentang Danau Tempe, yang dibicarakan bukan hanya luas permukaan air atau pemandangan yang terlihat dari kejauhan.
Ada dapur yang menunggu hasil tangkapan.
Ada perahu yang kembali ketika hari mulai terang.
Ada jaring yang harus dikeringkan.
Dan ada danau yang setiap harinya kembali menerima perahu-perahu kecil itu.
Pagi berikutnya, jaring kembali dilempar. Air kembali bergeser. Di atas Danau Tempe, seseorang kembali menunggu sesuatu bergerak di bawah permukaan.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
