Anela Manda Arjanti
MAKASSAR β Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan kini tak lagi hanya menjadi urusan orang dewasa. Di SD Inpres Kampus Unhas, Makassar, puluhan siswa justru diajak terlibat langsung memahami ancaman limbah melalui metode yang jauh dari kesan menggurui.
Program bertajuk GACOR (Gerakan Anak Eco-Print) yang digagas mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 Tematik Perubahan Iklim menjadi ruang belajar yang menggabungkan edukasi lingkungan dengan aktivitas kreatif.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (7/8/2026) itu diprakarsai oleh Anela Manda Arjanti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Unhas. Sasaran program adalah siswa kelas 3, 4, dan 6 SD Inpres Kampus Unhas.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah rumah tangga dan rendahnya kesadaran pemilahan sampah sejak usia dini, para siswa diajak mengenali jenis-jenis sampah, memahami dampak limbah terhadap lingkungan, hingga mempraktikkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Namun, edukasi tersebut tidak disampaikan melalui ceramah panjang.
Anak-anak justru diajak berkompetisi dalam permainan pemilahan sampah. Mereka diminta mengidentifikasi berbagai jenis sampah yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, lalu memasukkannya ke kategori tempat sampah yang sesuai.
Suasana kelas berubah menjadi arena kompetisi yang penuh tawa. Siswa saling berlomba menunjukkan pemahaman mereka tentang sampah organik, anorganik, residu, hingga limbah B3 yang memerlukan penanganan khusus.
Kegiatan semakin meriah ketika sesi kuis interaktif dimulai. Berbagai pertanyaan seputar lingkungan dilontarkan dan dijawab antusias oleh para peserta yang berebut hadiah.
Puncak kegiatan berlangsung di luar ruangan melalui praktik eco-print, sebuah teknik mencetak motif alami menggunakan daun dan bunga pada media kain.
Para siswa tampak antusias memukulkan dedaunan dan bunga ke permukaan tote bag untuk memindahkan pigmen alami yang menghasilkan motif unik. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga memperkenalkan alternatif pemanfaatan bahan alam yang ramah lingkungan.
Kepala SD Inpres Kampus Unhas, Idrus, S.Pd., M.Pd., menilai pendekatan yang digunakan dalam program tersebut efektif membangun kesadaran lingkungan sejak usia sekolah dasar.
Menurutnya, metode belajar yang dikemas dalam bentuk permainan dan praktik langsung lebih mudah diterima oleh anak-anak dibandingkan pendekatan konvensional.
βKegiatan ini sangat sejalan dengan program Adiwiyata sekolah kami. Anak-anak belajar sambil bermain sehingga materi lebih mudah dipahami dan mereka terlihat sangat menikmati prosesnya,β ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat terus berlanjut untuk memperkuat pendidikan karakter, khususnya dalam bidang pelestarian lingkungan.
Program GACOR menjadi salah satu contoh bagaimana isu perubahan iklim dan pengelolaan sampah dapat diperkenalkan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, langkah kecil dari ruang kelas seperti ini dinilai penting untuk membentuk generasi yang lebih sadar, kreatif, dan memiliki kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
