Demak, Katasulsel.com — Gebyar Muharram ke-16 di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang semula berlangsung meriah berubah menjadi perbincangan di media sosial setelah salah satu penampilan grup drumband menjadi viral.

Video penampilan tersebut memperlihatkan sejumlah peserta perempuan tampil dengan kostum yang dinilai sebagian warganet terlalu ketat serta membawakan gerakan tari yang dianggap kurang sesuai dengan suasana acara keagamaan.

Padahal, kegiatan itu digelar untuk menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dengan mengusung tema “Memulai Langkah Menjadi Segoro Berkah.”

Gebyar Muharram berlangsung di Jalan Pasar Hewan RT 01 RW 01, Desa Bandungrejo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Puluhan grup drumband dari berbagai daerah ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Total terdapat 26 tim drumband yang tampil membawa atraksi musik, formasi dan pertunjukan di hadapan masyarakat.

Namun, salah satu penampilan justru menyedot perhatian lebih besar dibanding pertunjukan lainnya.

Potongan video penampilan tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memunculkan beragam komentar. Sebagian warganet mempertanyakan kesesuaian kostum dan koreografi dengan konteks Gebyar Muharram yang membawa semangat syiar Islam.

“Mirisnya gurunya ikut nonton juga,” tulis salah satu akun.

Komentar lain bahkan menyebut penampilan tersebut tidak mencerminkan suasana perayaan Muharram.

Di tengah polemik tersebut, pihak penyelenggara akhirnya memberikan tanggapan.

Mewakili unsur Pembina Yayasan NUN yang menaungi dua madrasah, HM Ridwan Sulhan menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul.

Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara.

“Kami memohon maaf kepada Pembina dan Pengurus Yayasan NUN, MWC NU Mranggen, serta seluruh masyarakat yang merasa kurang nyaman dengan penampilan salah satu grup drumband tersebut. Kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi kami ke depan,” ujar HM Ridwan Sulhan, dikutip dari NU Demak.

Sudah 16 Tahun Digelar

Pihak penyelenggara menjelaskan Gebyar Muharram bukan kegiatan yang baru digelar.

Agenda tersebut telah berlangsung selama 16 tahun dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan syiar Islam sekaligus kegiatan sosial kemasyarakatan.

Karena itu, munculnya kontroversi dari salah satu penampilan menjadi perhatian tersendiri bagi panitia.

Evaluasi terutama diarahkan agar pertunjukan dalam kegiatan serupa ke depan tetap dapat berlangsung meriah, namun tetap mempertimbangkan nilai dan nuansa kegiatan yang diusung.

Di media sosial, polemik tersebut pun berkembang menjadi perdebatan.

Sebagian warganet mengkritik penampilan yang dianggap kurang tepat, sementara pihak lain melihatnya sebagai bagian dari hiburan dalam sebuah kegiatan masyarakat.

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, pihak penyelenggara memastikan kejadian itu menjadi catatan penting.

Gebyar Muharram yang seharusnya menjadi panggung syiar, akhirnya justru viral karena satu penampilan. Kini, evaluasi menjadi pekerjaan rumah penyelenggara untuk acara tahun berikutnya.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Viral hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Viral terbaru di sini