Gowa, Katasulsel.com – Desa Tinggimae, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, pelan-pelan berubah fungsi. Bukan hanya ruang hidup warga, tetapi juga menjadi semacam laboratorium terbuka tempat ide, teknologi, dan praktik lapangan bertemu langsung tanpa sekat kampus.
Di titik inilah, Rabu (10/06/2026), Tim CARA’DE PPK ORMAWA BEM KMF TP Universitas Hasanuddin turun membawa program pengabdian yang tidak sekadar “sosialisasi biasa”, tetapi dirancang seperti project-based field implementation: ada desain program, ada eksekusi, dan ada target dampak yang ingin dicapai di level masyarakat desa.
Sebanyak 47 peserta dari aparat desa, Karang Taruna, hingga tokoh masyarakat Tinggimae ikut masuk dalam ruang diskusi yang lebih terasa seperti “mini workshop inovasi desa” ketimbang seminar formal. Materi yang dibawa mahasiswa mencakup pendampingan masyarakat, penerapan teknologi pertanian, edukasi, hingga model pemberdayaan berbasis kelompok.
Dosen pendamping Husnul Mubarak, S.TP., M.Si., menegaskan bahwa Gowa dalam konteks ini bukan hanya lokasi kegiatan, tetapi menjadi ruang uji nyata transfer knowledge dari kampus ke masyarakat.
“Mahasiswa harus turun sebagai problem solver, bukan sekadar penyampai teori. Di desa seperti Tinggimae inilah ilmu diuji,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah desa, Kepala Desa Tinggimae Jabbar, S.H. melihat program ini sebagai bentuk knowledge injection ke level akar rumput. Ia menyebut kolaborasi ini sebagai peluang memperkuat kapasitas masyarakat Gowa, khususnya di sektor pertanian yang menjadi basis ekonomi warga.
“Kami menyambut baik. Ini bukan hanya kegiatan mahasiswa, tapi proses penguatan kapasitas desa agar lebih adaptif terhadap inovasi,” katanya.
Yang menarik, pola pendekatan program ini tidak berhenti di tahap seremonial. Mahasiswa membawa model pendampingan berkelanjutan: mulai dari identifikasi masalah, penguatan kapasitas, hingga implementasi solusi berbasis teknologi pertanian.
Di Gowa, khususnya di Tinggimae, konsep “kampus masuk desa” tidak lagi sebatas jargon. Ia mulai berubah menjadi ekosistem kecil di mana desa menjadi user, mahasiswa menjadi developer ide, dan masyarakat menjadi tester utama dari inovasi yang dibawa.
Jika pola ini berjalan konsisten, Gowa bukan hanya menjadi lokasi pengabdian, tetapi bisa menjelma sebagai model desa pembelajaran—tempat di mana teori kampus diuji langsung oleh realitas lapangan yang tidak selalu rapi seperti buku teks. (tp)
