Sebab kalau hanya karena harga emas sedang tinggi, seharusnya fenomenanya relatif sama di semua daerah.

Tetapi data menunjukkan ada perbedaan yang cukup mencolok antardaerah.

Rata-rata kepemilikan rumah tangga dengan aset emas/perhiasan minimal 10 gram di Sulsel berada sekitar 27,54 persen, sementara Wajo mencapai 53,23 persen dan Sidrap 49,95 persen.

Artinya, fenomena tersebut tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengatakan β€œharga emas sedang naik”.

Ada faktor kebiasaan masyarakat yang ikut bermain.

Wajo-Sidrap-Soppeng: tiga nama yang bikin penasaran

Lihat lagi daftarnya.

Wajo.

Sidrap.

Soppeng.

Tiga kabupaten di Sulsel ini bertengger di posisi 1, 3 dan 4 nasional.

Belum selesai.

Pangkep juga masuk lima besar.

Selayar, Maros, Barru dan Pinrang kemudian melengkapi delapan daerah Sulsel dalam 15 besar.

Jadi, kalau daftar tersebut dibaca dari sudut Sulsel, ceritanya bukan lagi tentang satu daerah.

Ini sudah menjadi fenomena regional.

Menariknya lagi, kota besar tidak otomatis berada di papan atas. Data Sulsel menunjukkan Makassar berada jauh di bawah Wajo dan Sidrap dalam indikator kepemilikan emas minimal 10 gram.

Lalu apa yang membedakan?

Pegadaian menyebut faktor kebiasaan.

Terutama di sejumlah wilayah masyarakat Bugis.

Deddy mengatakan wilayah Sidrap dan kawasan Bugis memberikan kontribusi yang cukup berarti terhadap bisnis Pegadaian.

β€œWilayah Sidrap, wilayah Bugis, sebagian besar di sana,” katanya.

Dari lemari ke aplikasi

Yang berubah sekarang justru cara emas itu diperoleh dan dikelola.

Dulu, orang mungkin membeli emas dalam bentuk perhiasan lalu menyimpannya di rumah.

Sekarang pilihannya semakin banyak.

Pegadaian juga mendorong layanan digital melalui aplikasi Tring!, termasuk layanan investasi emas dan cicil emas.

Namun, menurut Deddy, pemanfaatan layanan digital tersebut masih lebih banyak ditemukan di perkotaan.

Di daerah, edukasi masih terus dilakukan.

Bersambung…………..