Sidrap, Katasulsel.com — Bendera merah putih berkibar setengah tiang di Kelurahan Rijang Pittu, Kecamatan Maritengngae, Jumat (26/6/2026). Di bawah langit yang muram, Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Andi Faisal Sehuddin, S.STP., M.Adm.KP., sosok birokrat yang selama lebih dari dua dekade mengabdikan hidupnya untuk pelayanan publik.

Kepergian mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidrap itu bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Sidrap juga kehilangan satu dari sedikit birokrat yang tumbuh dari jenjang paling bawah, menapaki karier setahap demi setahap hingga dipercaya memimpin lembaga-lembaga strategis daerah.

Upacara persemayaman dipimpin langsung Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, sebagai Inspektur Upacara. Hadir pula Wakil Bupati Nurkanaah, anggota DPRD, pejabat lingkup Pemkab Sidrap, ASN, keluarga, sahabat, serta masyarakat yang datang memberikan penghormatan terakhir.

Dalam suasana penuh haru, pasukan IPDN mengibarkan bendera setengah tiang. Mengheningkan cipta menjadi momen yang paling menyentuh, ketika seluruh peserta upacara mengenang perjalanan panjang seorang aparatur yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi kepada daerah.

Tidak semua pejabat memiliki kisah perjalanan seperti Faisal Sehuddin.

Lahir di Maros pada 16 Oktober 1980, almarhum memulai kariernya sebagai staf pelaksana. Tidak ada jalan pintas dalam perjalanan pengabdiannya.

Dari Kecamatan Lau di Kabupaten Maros, ia meniti karier birokrasi dengan kesabaran dan ketekunan. Ketika bergabung di Kabupaten Sidrap, kemampuannya dalam bidang kepegawaian membuatnya dipercaya menduduki berbagai posisi penting.

Mulai dari Kepala Sub Bidang Pengembangan Karier, Kepala Bidang Mutasi, hingga akhirnya memimpin Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sidrap.

Di kalangan ASN, nama Faisal dikenal sebagai sosok yang memahami betul seluk-beluk manajemen kepegawaian. Banyak pegawai yang mengenangnya sebagai figur yang tegas dalam aturan, namun tetap membuka ruang komunikasi bagi bawahannya.

Puncak pengabdiannya datang ketika dipercaya menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidrap pada tahun 2022.

Jabatan itu memperluas ruang pengabdiannya. Jika sebelumnya ia mengurus pengembangan aparatur, maka di Dinas Pendidikan ia ikut menentukan arah pembangunan sumber daya manusia Sidrap melalui dunia pendidikan.

Banyak pihak menilai, perpindahan dari dunia kepegawaian ke sektor pendidikan bukan tugas mudah. Namun Faisal mampu beradaptasi dan menjalankan amanah tersebut hingga akhir masa pengabdiannya.

Karena itulah, kepergiannya tidak hanya dirasakan oleh kalangan ASN, tetapi juga oleh guru, tenaga kependidikan, dan berbagai elemen masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya.

Dalam amanatnya, Bupati Syaharuddin Alrif menyebut almarhum sebagai figur panutan yang meninggalkan teladan pengabdian.

“Almarhum adalah sosok panutan, dermawan, dan sangat aktif selama menjalankan tugas sebagai ASN,” kata Syaharuddin.

Menurut Bupati, Sidrap kehilangan salah satu aparatur terbaik yang selama hidupnya menunjukkan dedikasi, loyalitas, dan prestasi kerja yang patut menjadi contoh bagi generasi ASN berikutnya.

Pernyataan itu bukan sekadar penghormatan seremonial.

Bagi banyak orang yang mengenal Faisal, sosoknya memang identik dengan semangat kerja, kesederhanaan, dan komitmen terhadap tugas yang diemban.

Di usia yang relatif muda, 45 tahun, Faisal Sehuddin meninggalkan seorang istri, Haerani Rasyid, serta empat orang anak.

Namun lebih dari itu, ia juga meninggalkan sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata: jejak pengabdian.

Jejak itu tersimpan dalam sistem birokrasi yang pernah ia bangun, dalam ASN yang pernah ia bina, dalam dunia pendidikan yang pernah ia pimpin, dan dalam kenangan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.

Karena sesungguhnya, ukuran seorang pengabdi bukan hanya berapa lama ia hidup, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya setelah pergi.

Dan pada hari itu, ketika bendera setengah tiang berkibar di Rijang Pittu, Sidrap seolah sedang mengucapkan satu kalimat sederhana kepada salah satu putra terbaiknya:

Terima kasih atas pengabdianmu, Faisal Sehuddin. (*)