Makassar, katasulsel.com — Ratusan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang akan menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 di Kabupaten Pinrang mendapat pesan khusus sebelum turun ke lapangan. Mereka diminta tidak sekadar hadir menjalankan program rutin, tetapi mampu membaca kebutuhan masyarakat dan memperkuat agenda pembangunan yang telah berjalan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pembekalan Khusus KKN Kabupaten Pinrang yang digelar Subdirektorat Pendidikan Berbasis Pengabdian kepada Masyarakat Unhas di Aula Lantai 3 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unhas, Selasa (23/6/2026).

Kepala Subdirektorat Pendidikan Berbasis Pengabdian kepada Masyarakat Unhas, Dr Ir Syarifuddin Mabe Parenreng ST MT IPU ASEAN Eng, menjelaskan pelaksanaan KKN tahun ini mengusung pendekatan berbeda dibanding pola sebelumnya.

Menurutnya, mahasiswa tidak lagi diarahkan untuk merancang program kerja dari nol, melainkan hadir sebagai mitra yang membantu memperkuat program yang telah dijalankan pemerintah desa maupun pemerintah daerah.

“Mahasiswa hadir untuk mendukung dan mengakselerasi program yang sudah ada. Pendekatannya lebih kolaboratif sehingga manfaatnya bisa lebih dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, khusus untuk Kabupaten Pinrang terdapat dua fokus utama yang menjadi perhatian mahasiswa KKN. Pertama, mendukung program inovasi daerah yang telah disusun pemerintah setempat. Kedua, memperkuat program literasi melalui kolaborasi bersama Perpustakaan Nasional.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan kesinambungan program sehingga hasil pengabdian mahasiswa tidak berhenti setelah masa KKN berakhir.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Pinrang, Drs Abdul Rahman Mahmud MSi, memberikan gambaran mengenai kondisi wilayah yang akan menjadi lokasi pengabdian mahasiswa.

Dalam paparannya, Rahman menekankan pentingnya Analisis Potensi Wilayah (Anpotwil) sebagai langkah awal sebelum mahasiswa menyusun aktivitas di desa.

Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakteristik, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa harus mampu mengenali kondisi lapangan secara utuh agar program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran.

Ia juga mengingatkan bahwa dunia kampus dan kehidupan masyarakat memiliki dinamika yang berbeda. Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan beradaptasi agar dapat diterima dan bekerja bersama masyarakat.

“Ketika berada di desa, mahasiswa harus mampu membangun komunikasi, memahami lingkungan, dan berkolaborasi dengan seluruh unsur yang ada. Dari situlah program yang dijalankan akan memberikan dampak yang lebih luas,” katanya.

Rahman menambahkan, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut dapat melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok pemuda, hingga berbagai elemen lain yang memiliki peran dalam pembangunan wilayah.

Melalui pembekalan ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang sebelum memasuki lokasi KKN. Selain mampu mengimplementasikan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, mereka juga diharapkan dapat menjadi penggerak lahirnya inovasi serta mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kabupaten Pinrang.

Dengan pendekatan kolaboratif yang diusung tahun ini, KKN Unhas tidak hanya menjadi sarana pengabdian mahasiswa, tetapi juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mempercepat pembangunan daerah melalui sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. (*)