Makassar, Katasulsel.com – Ada yang mulai bergerak di Sulawesi Selatan.

Bukan kereta.

Bukan pula proyek jalan tol.

Melainkan sebuah gagasan besar bernama Sekolah Rakyat.

Perlahan tetapi pasti, program yang digadang-gadang menjadi salah satu senjata pemerintah memutus rantai kemiskinan itu mulai hidup di berbagai daerah.

Saat ini, tujuh Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Sulawesi Selatan sudah memasuki tahap Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan mulai dipenuhi aktivitas belajar.

Anak-anak datang membawa koper.

Orang tua mengantar dengan harapan.

Guru dan wali asuh mulai menata kehidupan baru di dalam kawasan pendidikan berasrama tersebut.

Tujuh daerah yang lebih dulu bergerak adalah Kota Makassar, Kabupaten Takalar, Sinjai, Barru, Sidenreng Rappang (Sidrap), Tana Toraja, dan Bone.

Sementara dua daerah lainnya, yakni Kabupaten Soppeng dan Wajo, bersiap menyusul dalam gelombang berikutnya setelah penyelesaian tahap akhir fasilitas pendukung.

Jumlah siswa yang telah mulai menempati empat Sekolah Rakyat Terintegrasi terbaru di Barru, Sidrap, Tana Toraja, dan Bone mencapai 1.508 orang.

Rinciannya, 446 siswa di Sidrap, 393 siswa di Barru, 340 siswa di Tana Toraja, dan 329 siswa di Bone.

Mereka berasal dari keluarga prasejahtera yang menjadi sasaran utama program tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar pembangunan gedung pendidikan.

Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Harapannya sederhana namun besar: pendidikan menjadi jalan keluar dari kemiskinan.

Karena itu, sekolah-sekolah ini dibangun dengan konsep yang berbeda.

Bukan hanya ruang kelas.

Di dalamnya terdapat asrama siswa, laboratorium, rumah susun guru, gedung serbaguna, masjid, kantin, lapangan olahraga, sistem penyediaan air bersih, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Konsepnya menyerupai sebuah kawasan pendidikan terpadu yang memungkinkan siswa belajar sekaligus tinggal dalam lingkungan yang mendukung pembentukan karakter.

Di Kabupaten Barru, misalnya, pemerintah masih menyempurnakan sistem penyediaan air bersih melalui penyambungan jaringan PDAM.

Namun kegiatan MPLS tetap berjalan karena kebutuhan air dipenuhi menggunakan mobil tangki.

Pemerintah memastikan penyempurnaan utilitas tidak mengganggu proses belajar para siswa.

Bagi Sulawesi Selatan, perkembangan ini menjadi kabar penting.

Sebab daerah ini menjadi salah satu provinsi dengan pembangunan Sekolah Rakyat terbanyak di Indonesia.

Total sembilan sekolah dibangun dan tersebar di sejumlah kabupaten/kota.

Jika Soppeng dan Wajo resmi beroperasi dalam waktu dekat, maka seluruh jaringan Sekolah Rakyat Sulsel akan aktif melayani ribuan siswa dari berbagai daerah.

Dari pesisir Barru.

Hamparan sawah Sidrap.

Pegunungan Tana Toraja.

Hingga wilayah pendidikan baru di Soppeng dan Wajo.

Semuanya terhubung oleh satu tujuan yang sama.

Memberikan kesempatan yang lebih luas kepada anak-anak untuk mengubah masa depan mereka melalui pendidikan.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal beton dan bangunan.

Tetapi tentang seberapa banyak mimpi yang bisa diwujudkan di dalamnya.

Dan di Sulawesi Selatan, mimpi-mimpi itu kini mulai bergerak bersama Sekolah Rakyat. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini