Katasulsel.com — Ada malam yang tidak sekadar pertandingan, tapi berubah menjadi catatan sejarah. Di Stadion New Jersey, Amerika Serikat, Lionel Messi kembali menulis bab baru dalam buku sepak bola dunia saat Argentina menghancurkan Aljazair 3-0 pada laga pembuka Grup J Piala Dunia 2026.
Bukan sekadar kemenangan. Ini panggung milik satu orang: Messi.
Laga ini punya makna ganda. Messi menjalani penampilan internasional ke-200 bersama Argentina, dan ia merayakannya dengan cara yang hanya bisa dilakukan pemain di level “di luar logika”—hat-trick sempurna yang langsung menggetarkan dunia.
Sejak menit awal, atmosfer sudah terasa panas. Messi bahkan sempat hampir membuka skor ketika Lautaro Martínez mengirim bola matang ke kotak penalti. Stadion sempat bergemuruh, sebelum VAR mendinginkan suasana: offside tipis, gol dianulir.
Aljazair sempat mencoba membalas. Serangan cepat mereka bahkan sempat membuahkan gol lewat Farès Chaïbi. Namun lagi-lagi, garis tipis offside membatalkan pesta yang hampir lahir.
Setelah dua peringatan itu, Messi mulai mengambil alih.
Menit ke-15 menjadi titik awal dominasi. Rodrigo De Paul mengirim bola terukur ke kaki Messi di depan kotak penalti. Tanpa banyak sentuhan, sang kapten memutar tubuh, mencari celah, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang sedikit berubah arah setelah menyentuh ujung jari Luca Zidane. Bola melengkung manis ke sudut atas gawang.
1-0 Argentina. Tapi itu baru pembuka.
Aljazair terlihat seperti tim yang terlalu menghormati lawan. Ritme mereka tersendat, keberanian mereka tertahan oleh nama besar di seberang lapangan.
Messi, sebaliknya, bermain seperti konduktor orkestra. Setiap bola yang disentuhnya seperti mengubah arah pertandingan.
Babak kedua baru berjalan beberapa menit ketika Messi kembali mendapat ruang di depan kotak penalti. Kali ini peluang emas terbuang—tendangan melambung tinggi—namun itu hanya jeda kecil sebelum badai berikutnya.
Gol kedua lahir dari insting pembunuh khasnya. Tendangan Alexis Mac Allister sempat ditepis Zidane dengan kurang sempurna, dan dalam sepersekian detik, Messi sudah berada di posisi yang tepat. Bola rebound disambar tanpa ampun ke sudut gawang.
2-0. Stadion mulai sadar: ini bukan pertandingan biasa.
Di tribun, bahkan Presiden FIFA Gianni Infantino terlihat menjadi saksi langsung pertunjukan tersebut.
Namun Messi belum selesai.
Sekitar 15 menit menjelang akhir laga, ia kembali menunjukkan bahwa usia dan angka 200 pertandingan hanyalah statistik. Ia mengirim umpan terobosan, bergerak tanpa bola, menerima kembali, lalu melepaskan tembakan jarak jauh yang tidak memberi ruang bagi kiper untuk bereaksi.
3-0. Hat-trick. Sempurna.
Aljazair benar-benar tidak punya jawaban. Setiap kali mencoba keluar menyerang, Messi selalu muncul di ruang yang tepat, waktu yang tepat, keputusan yang tepat.
Saat ditarik keluar menjelang akhir laga, stadion berdiri. Tepuk tangan panjang mengalir tanpa henti. Bukan hanya dari fans Argentina, tapi juga dari penonton netral yang sadar: mereka baru saja menyaksikan sejarah hidup.
Dengan tiga gol ini, Messi kini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 16 gol, menyamai rekor Miroslav Klose—namun dengan gaya yang terasa jauh lebih personal: penuh seni, intuisi, dan dominasi total.
Argentina memimpin Grup J, sementara Aljazair pulang dengan satu kesimpulan pahit: mereka baru saja menjadi bagian dari malam milik satu legenda yang belum selesai menulis kisahnya. (*)
