MUGELLO – Sekilas, posisi ke-21 yang diraih Veda Ega Pratama pada sesi Practice Moto3 Italia 2026 memang tidak terlihat istimewa.
Namun di Mugello, papan waktu sering kali menyembunyikan cerita yang berbeda.
Sirkuit legendaris di Italia itu bukan trek yang selalu dimenangkan pembalap tercepat dalam satu putaran. Mugello adalah arena permainan strategi, slipstream, dan keberanian mengambil risiko pada momen yang tepat.
Di sinilah peluang Veda masih terbuka.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Meski mengakhiri sesi di luar 20 besar, pembalap muda Indonesia tersebut sempat menghabiskan sebagian waktu practice di kelompok 10 besar. Fakta itu menunjukkan bahwa kecepatan dasarnya sebenarnya ada.
Masalahnya bukan soal mampu atau tidak mampu melaju cepat.
Masalahnya adalah bagaimana mempertahankan kecepatan tersebut ketika semua pembalap mulai menyerang pada menit-menit terakhir.
Bagi penggemar Moto3, situasi seperti ini bukan hal baru.
Kelas paling kompetitif di ajang Grand Prix tersebut sering menghadirkan kejutan. Pembalap yang berada di luar 20 besar pada sesi latihan bisa saja bertarung di kelompok depan saat balapan berlangsung.
Alasannya sederhana.
Moto3 sangat bergantung pada pertarungan rombongan.
Dan Mugello adalah salah satu sirkuit yang paling mendukung skenario itu.
Trek lurus sepanjang lebih dari satu kilometer membuat efek slipstream menjadi sangat penting. Pembalap yang cerdas memanfaatkan angin dari motor di depannya bisa memperoleh keuntungan kecepatan yang signifikan saat menyalip.
Karakter inilah yang berpotensi menjadi senjata Veda.
Jika mampu bergabung dengan kelompok besar sejak lap-lap awal, peluang untuk merangsek naik jauh lebih terbuka dibandingkan yang terlihat di klasemen latihan.
Ada satu faktor lain yang membuat Mugello terasa spesial bagi Veda.
Sirkuit ini menyimpan kenangan manis.
Sebelum tampil di Kejuaraan Dunia Moto3, Veda pernah mencatat hasil gemilang di Mugello saat berlaga di ajang Red Bull Rookies Cup.
Artinya, ia tidak datang sebagai pembalap yang harus belajar dari nol.
Ia mengenal karakter tikungan cepat Mugello. Ia memahami area pengereman yang krusial. Dan yang paling penting, ia pernah merasakan bagaimana rasanya bersaing di depan di lintasan ini.
Pengalaman tersebut bisa menjadi modal psikologis yang tidak dimiliki semua pembalap.
Tentu saja, tantangan tetap besar.
Persaingan Moto3 musim ini sangat rapat. Selisih beberapa persepuluh detik saja bisa memisahkan belasan pembalap.
Karena itu, kunci Veda bukan hanya soal kecepatan maksimal.
Selanjutya…………
Yang lebih penting adalah menjaga ritme balapan, menghindari kehilangan kontak dengan grup depan, dan memanfaatkan setiap peluang overtake yang muncul.
Jika semua berjalan sesuai rencana, target realistis Veda adalah menembus zona poin.
Namun bila mampu mengulang kecepatan yang sempat ditunjukkan pada awal sesi practice, bukan tidak mungkin pembalap Indonesia itu menghadirkan kejutan yang lebih besar.
Mugello sudah berkali-kali membuktikan bahwa balapan tidak selalu dimenangkan di sesi latihan.
Dan bagi Veda Ega Pratama, race day bisa menjadi cerita yang sama sekali berbeda dari apa yang ditunjukkan papan waktu hari ini. (*)
