Sidikalang, Katasulsel.com – Dari sebuah sudut desa yang tenang di Kilometer 2, Desa Kalang, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, lahir kisah yang pelan namun pasti menembus batas-batas geografis dunia akademik internasional.

Junita Solin, perempuan muda yang masih berstatus lajang, kini menjadi salah satu talenta Indonesia yang menempuh pendidikan doktoral (PhD) di Wageningen University & Research, Belanda—salah satu kampus pertanian terbaik di dunia yang berbasis di kota Wageningen, sekitar 83 kilometer dari Amsterdam.

Di usia yang relatif muda, Junita tidak hanya menjadi mahasiswa, tetapi juga bagian dari lingkaran diskusi ilmiah yang diperhatikan kalangan akademisi internasional, termasuk guru besar dari kampus tersebut. Ia berada di bawah bimbingan dua promotor yang dikenal dalam dunia riset pertanian global, Prof. Fred dan Prof. E. van Eeuwijk, dengan target penyelesaian studi pada 2029.

“Dalam bidang penelitian pertanian level internasional, mereka adalah nama besar,” ujar Junita dalam sambungan telepon, Senin (1/6/2026).

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Perjalanan akademiknya tidak lahir dalam ruang yang instan. Junita menempuh pendidikan magister yang dimulai pada 2022 dan diselesaikan melalui dukungan beasiswa StuNed pada 2024. Dalam rentang itu, ia juga menjalani pengalaman internasional melalui program internship di sejumlah negara, termasuk Belgia, Australia, dan Prancis.

Ia bahkan beberapa kali dipercaya tampil dalam forum ilmiah internasional, sebuah ruang yang biasanya hanya dihuni para peneliti mapan.

“Saya sering diikutkan dalam konferensi internasional,” katanya.

Kini, Junita tidak lagi sekadar peserta. Ia telah memasuki fase yang lebih tinggi: menjadi bagian dari komunitas riset global, termasuk pernah terlibat dalam aktivitas akademik di Jan IngenHousz Institute, Belanda.

Disiplin Eropa, Realitas Akademik Tanpa Basa-Basi

Pengalaman hidup di Belanda membuka perspektif baru tentang budaya akademik yang sangat disiplin dan transparan. Menurut Junita, komunikasi di dunia kampus Eropa berlangsung tegas, langsung, dan berbasis kejelasan.

“Kalau iya, iya. Kalau tidak, ya tidak. Tidak bertele-tele,” ujarnya.

Ia juga menyoroti budaya komunikasi yang sangat berbasis email dalam seluruh urusan formal kampus maupun institusi pemerintahan. Bahkan, komunikasi telepon atau WhatsApp sangat dibatasi dan hanya digunakan untuk lingkaran tertentu.

“Kalau tidak aktif cek email, bisa tertinggal banyak hal,” katanya.

Aktivitas akademik pun berjalan ketat dalam jam kerja. Penelitian dan diskusi ilmiah berlangsung dari pukul 08.30 hingga 17.00, dengan batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi.

Dari Sidikalang ke Dunia: Jejak Pendidikan yang Tidak Instan

Perjalanan Junita dimulai dari SMP Katolik Santo Paulus Sidikalang, lalu berlanjut ke SMA Unggul Del Laguboti—sekolah berasrama yang dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan unggulan di Sumatera Utara.

Ia kemudian melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dengan minat utama pada biologi dan riset pertanian. Bahkan saat kuliah, ia sempat mengikuti program summer school ke Belanda dan memperpanjang pengalaman belajarnya hingga satu bulan untuk memahami lebih dalam ekosistem akademik Eropa.

Kesempatan itu menjadi titik awal keyakinannya bahwa riset internasional adalah jalur yang bisa ia tempuh.

Namun, jalan tersebut tidak tanpa tantangan. Junita datang dari keluarga sederhana. Ayahnya, Wesly Solin, seorang petani kopi dengan lahan terbatas, sementara ibunya, Mesli Pasaribu, merupakan pensiunan tenaga kesehatan di RSUD Sidikalang.

“Kalau mau lanjut S2, cari beasiswa sendiri. Kami hanya sanggup sampai S1,” ujar Junita mengulang pesan orang tuanya.

Kalimat itu justru menjadi titik balik. Dari keterbatasan itulah ia berhasil meraih berbagai peluang beasiswa, termasuk Erasmus dan StuNed, hingga akhirnya memilih jalur full scholarship untuk studi di Belanda.

Pesan dari Sidikalang untuk Dunia

Di tengah padatnya riset genetika statistik yang ia tekuni, Junita tetap menyimpan pesan sederhana untuk generasi muda di daerah: bahwa latar belakang bukan penentu akhir dari masa depan.

“Kita harus tancapkan cita-cita sesuai talenta. Kalau sudah ada keinginan, harus dipersiapkan dengan belajar keras dan konsisten,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sebagai kunci utama membuka akses pendidikan global.

“Kalau bahasa Inggris sudah kuat, kita bisa berinteraksi dengan dunia lebih luas,” katanya.

Dari Sidikalang, sebuah pesan itu mengalir pelan namun kuat: bahwa desa bukan batas, melainkan titik awal dari perjalanan yang bisa menembus benua—jika disiplin, kesempatan, dan tekad berjalan seiring. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita