Sidrap, katasulsel.com — Jalan itu pernah membuat orang menutup hidung.
Kalau melintas di sekitar Jembatan Amparita menuju Desa Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, jangan berharap perjalanan menyenangkan. Aspalnya rusak. Lubangnya banyak. Di pinggir jalan, sampah menumpuk. Baunya menyengat. Pemandangan itu seperti menyambut setiap orang yang datang.
Kini?
Kalau tidak pernah melewati jalan itu setahun lalu, mungkin Anda tidak akan percaya.
Jalan yang sama. Lokasi yang sama. Tetapi wajahnya seperti bukan lagi di Sidrap yang kita kenal.
Aspalnya hitam mengilap. Mulus. Garis markanya masih terang. Yang lebih mengejutkan justru berada di sisi kiri dan kanan jalan.
Bunga.
Ya, bunga.
Bukan satu dua pot. Melainkan taman memanjang yang dipenuhi tanaman hias berwarna-warni. Ban bekas disulap menjadi pot cantik. Pagar kecil dicat merah, putih, biru, dan kuning. Semuanya berpadu dengan hamparan sawah hijau yang membentang di sampingnya.
Kalau sore tiba, angin sawah berembus pelan. Langit biru menjadi atapnya. Jalan itu mendadak terasa seperti lokasi wisata.
Orang-orang mulai berdatangan. Bukan karena ada pasar. Bukan pula karena ada hajatan.
Mereka datang untuk berfoto.
Ada yang berhenti sejenak, mengeluarkan ponsel, lalu mengabadikan momen. Ada keluarga yang sengaja singgah. Ada pula pengendara yang awalnya hanya melintas, akhirnya memarkir kendaraan karena penasaran.
Jalan itu kini menjadi perbincangan.
Banyak yang menyebutnya sebagai jalan tercantik di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Perubahan itu bukan terjadi begitu saja.
Di baliknya ada ide yang lahir dari Camat Tellu Limpoe, Ridwan Bachtiar. Baginya, jalan bukan sekadar penghubung antardesa. Jalan juga bisa menjadi wajah sebuah daerah.
“Inilah inovasi kami. Sebuah persembahan untuk masyarakat,” katanya.
Ridwan menyebut penataan kawasan tersebut sengaja dipersiapkan sebagai kado Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia bahkan berencana mengundang langsung Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, untuk me-launching kawasan itu pada 8 Agustus mendatang. Siangnya, dulanjutkan karnaval Agustusan tingkat kecamatan.
Peluncuran itu diharapkan menjadi simbol bahwa membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari proyek bernilai miliaran rupiah.
Kadang cukup dengan mengubah tempat yang paling sering dilihat masyarakat.
Membersihkan sampah.
Menanam bunga.
Merawatnya setiap hari.
Hasilnya ternyata luar biasa.
Jalan yang dulu ingin segera dilewati, kini justru membuat orang ingin berhenti lebih lama menikmati ikon Tellu Limpoe tersebut.
Mungkin, beginilah seharusnya wajah desa.
Bersih. Indah. Membuat bangga warganya.
Dan Tellu Limpoe sedang menunjukkan bahwa perubahan besar kadang dimulai dari sesuatu yang sederhana: sepetak jalan yang diberi hati.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
