Mereka juga memperhatikan apa yang tidak dikatakan.

Suami bilang sebentar, tetapi pulangnya lama.

Suami bilang rapat, tetapi tidak tahu rapat apa.

Suami bilang baterai habis, tetapi status WhatsApp masih aktif.

Ini bukan lagi soal penyadapan.

Ini soal konsistensi keterangan.

Dalam hukum acara, keterangan yang tidak konsisten bisa menimbulkan pertanyaan. Dalam rumah tangga, keterangan yang tidak konsisten bisa menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih banyak.

Hehehe.

Tentu saja tidak semua istri seperti itu. Dan tidak semua suami punya sesuatu yang perlu disembunyikan.

Ada juga suami yang justru ingin dilacak. Supaya istrinya tahu bahwa dia benar-benar sedang bekerja, bukan sedang keluyuran.

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat: rasa ingin tahu tidak boleh berubah menjadi pelanggaran privasi. Rumah tangga tetap membutuhkan kepercayaan.

Sebab, kalau setiap langkah harus diawasi, hidup bisa terasa seperti sedang menjalani masa percobaan.

Kembali ke soal Presiden.

Kalau benar ada penyadapan ilegal terhadap komunikasi kepala negara, tentu itu persoalan serius. Negara harus punya perlindungan komunikasi yang kuat.

Tetapi di Sidrap, saya kira ada persoalan yang lebih sederhana.

Bagaimana caranya seorang suami bisa duduk menikmati kopi tanpa harus menyusun laporan perjalanan?

Jawabannya sebenarnya mudah.

Jujur saja.

Kalau ke warung kopi, bilang ke warung kopi.

Kalau pulang terlambat, kabari.

Kalau ada urusan, jelaskan.

Jangan membuat istri menjadi penyidik hanya karena suami terlalu hemat informasi.

Sebab, dalam rumah tangga, keterbukaan jauh lebih murah daripada memasang alat pelacak.

Dan satu lagi.

Jangan pernah merasa lebih pintar daripada istri sendiri.

Dia mungkin tidak tahu teknologi penyadapan. Tidak mengerti perangkat lunak pelacak. Tidak pernah belajar ilmu intelijen.

Tetapi dia tahu kebiasaan suaminya.

Dia tahu jam pulangnya.

Dia tahu suara motornya.

Dia bahkan mungkin tahu kapan suaminya sedang berbohong hanya dari cara menjawab telepon.

Maka, kalau belakangan ini Presiden ramai dibicarakan karena isu penyadapan, jangan-jangan Sidrap punya cerita yang lebih dekat dengan kehidupan kita.

Di sini, penyadapan tidak perlu menunggu perintah negara.

Tidak perlu anggaran miliaran.

Tidak perlu satelit.

Cukup seorang istri, sebuah ponsel, dan satu pertanyaan sederhana:

“Sayang, sekarang di mana?”

Lalu suami menjawab:

“Di jalan.”

Istri membalas:

“Jalan yang mana? Saya lihat lokasita masih di warung kopi.”

Astagaaa.

Intelijen rumah tangga ternyata sudah melampaui teknologi.

Presiden mungkin perlu pengamanan komunikasi.

Suami Sidrap cukup perlu satu hal: jangan lupa izin kalau mau ngopi.

Heeee……… (*)