Itulah kenapa LTT menjadi indikator penting. Bukan sekadar luas tanam, tapi juga kecepatan dan ketepatan eksekusi di lapangan. Dalam bahasa sederhana petani muda, ini seperti “race pace” yang tidak boleh turun di tengah lomba.
Serka Usman dan jajaran Babinsa lain di wilayah Sidenreng menjalankan fungsi pendampingan yang lebih teknis dari sekadar pengawasan. Mereka memastikan bahwa setiap tahapan dari olah lahan hingga tanam benar-benar berada di jalur yang tepat.
Di beberapa titik, terlihat petani masih meratakan tanah, memperbaiki saluran air, dan memastikan petakan sawah tidak bocor. Aktivitas ini tampak sederhana, tetapi menentukan hasil akhir. Dalam istilah balap, ini seperti memastikan ban, rem, dan suspensi bekerja dalam satu paket sempurna sebelum race dimulai.
Musim Tanam II di Sidrap tahun ini juga membawa ekspektasi tinggi. Selain target produksi, ada dorongan untuk meningkatkan efisiensi lahan. Artinya, setiap petak sawah harus memberi output maksimal tanpa mengorbankan kualitas.
Pendampingan Babinsa menjadi bagian dari ekosistem itu. Tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan penyuluh pertanian, kelompok tani, hingga pemerintah daerah.
Di Elo Puang, pola kerja kolektif ini terlihat jelas. Tidak ada yang berjalan sendiri. Semua bergerak seperti satu tim balap yang punya satu tujuan: finish di garis akhir dengan hasil terbaik.
Meski istilahnya pertanian, tetapi ritme kerja di lapangan sering kali punya nuansa kompetitif. Siapa lebih cepat olah lahan, siapa lebih rapi tanam, siapa lebih efisien air. Semua menjadi bagian dari “race dalam senyap” di sektor pangan.
Namun di balik itu, ada tujuan yang lebih besar: memastikan ketahanan pangan tetap stabil. Dan Sidrap, seperti sudah berkali-kali dibuktikan, selalu menjadi salah satu lumbung yang menjaga ritme itu tetap hidup.
Serka Usman hanya satu dari banyak Babinsa yang bergerak di lapangan. Tapi di Poktan Elo Puang, kehadirannya menjadi bagian dari momentum penting MT II 2026.
Lahan-lahan yang sedang diolah hari ini bukan sekadar tanah basah. Ia adalah “grid start” dari produksi beras beberapa bulan ke depan. Dan seperti balapan panjang, hasil akhir ditentukan bukan hanya oleh kecepatan, tetapi oleh konsistensi sejak awal putaran.
Di Sidrap, musim tanam bukan sekadar rutinitas. Ia sudah menjadi semacam race season tahunan yang selalu ditunggu, diawasi, dan diperjuangkan bersama. (*)
