Wajo, Katasulsel.com – Di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, ada satu kawasan tua yang menyimpan lebih dari sekadar nama besar masa lampau. Namanya Tosora. Di tempat ini, sejarah tidak hanya hidup dalam cerita orang-orang tua atau catatan lontaraq, tetapi juga masih tertinggal pada ruang-ruang yang bisa dilihat: masjid tua, makam kuno, sumur lama, bekas benteng, hingga jejak kawasan yang pernah menjadi pusat Kerajaan Wajo. Tosora memang tidak seramai destinasi wisata populer. Namun justru di situlah letak nilainya. Ia memberi kesempatan untuk membaca masa lalu dari dekat, di tempat yang sampai sekarang masih dihuni dan masih menyimpan bekasnya.

Tosora menempati posisi penting dalam sejarah Wajo. Pemerintah Kabupaten Wajo mencatat kawasan ini sebagai tempat berlangsungnya kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat yang menjadi dasar pembentukan Kerajaan Wajo. Dari sana, Tosora kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan. Keterangan itu membuat Tosora tidak bisa dipandang sebagai kampung tua biasa. Ia pernah berdiri di titik yang sangat menentukan dalam perjalanan Wajo, ketika arah pemerintahan, kehidupan sosial, dan tatanan masyarakat mulai dibentuk.

Jejak sejarah itu tidak berhenti pada cerita turun-temurun. Kajian arkeologi menunjukkan Tosora pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Wajo sejak sekitar abad ke-16 hingga abad ke-19. Tinggalannya tersebar di sejumlah titik, mulai dari masjid tua, makam kuno, benteng, sumur, pelabuhan, hingga temuan keramik, gerabah, dan logam. Deretan tinggalan itu memperlihatkan satu hal penting: Tosora pada masanya bukan kawasan pinggiran, melainkan wilayah yang hidup dan tertata, dengan fungsi politik, sosial, ekonomi, sekaligus keagamaan.

Dari sekian banyak peninggalan itu, Masjid Tua Tosora menjadi penanda yang paling kuat. Bangunan ini bukan hanya penting karena usianya, tetapi karena ia berdiri di tengah salah satu fase besar perubahan Wajo. Penelitian tentang Masjid Tua Tosora mencatat bahwa masjid besar di kawasan ini dibangun pada 1621, pada masa pemerintahan Arung Matowa Wajo XV La Pakallongi To Allinrung, tidak lama setelah Islam diterima sebagai agama kerajaan pada 1610. Itu berarti Tosora bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga salah satu ruang penting yang menandai masuk dan menguatnya Islam dalam kehidupan kerajaan dan masyarakat Wajo.

Masjid tua itu menjadi pintu masuk untuk memahami Tosora secara utuh. Sebab yang tersisa di kawasan ini bukan bangunan tunggal yang berdiri sendiri, melainkan satu bentang ruang yang sejak lama berkaitan dengan jejak kerajaan. Di sekitarnya terdapat makam-makam kuno dan penanda lain yang menunjukkan bahwa Tosora dahulu dibangun dengan susunan yang jelas: ada ruang ibadah, ruang pemakaman, pusat pemerintahan, dan area pertahanan.

Tosora juga tidak tumbuh sebagai kawasan yang terisolasi. Kajian tentang evolusi spasial kawasan budaya Tosora menunjukkan bahwa wilayah ini berkembang sebagai kota kecil penting dalam Kerajaan Wajo dan berada di jalur strategis transportasi sungai menuju Danau Tempe dan Bone. Posisi itu membuat Tosora tidak hanya berfungsi sebagai pusat kekuasaan, tetapi juga terhubung dengan pergerakan dagang. Kehidupan di Tosora pada masa lalu tidak hanya berkisar pada urusan istana dan pemerintahan, melainkan juga pada arus manusia, barang, dan hubungan antardaerah.

Bagian inilah yang membuat Tosora penting dibaca hari ini. Ia tidak hanya menyimpan kisah tentang kerajaan, bangunan lama, atau tokoh masa lalu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Wajo tumbuh sebagai ruang hidup. Dari Tosora, orang bisa melihat bahwa sejarah Bugis tidak hanya tersimpan dalam naskah dan silsilah, tetapi juga tertinggal pada ruang-ruang yang pernah dipakai untuk memerintah, beribadah, berdagang, dan menguburkan orang-orang penting pada zamannya.

Di sisi lain, Tosora punya arti penting bagi Wajo hari ini karena jejak itu belum sepenuhnya hilang. Sejumlah kajian menempatkan Tosora sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki potensi dikembangkan sebagai wisata sejarah dan budaya. Di tengah banyaknya tempat bersejarah yang tinggal nama, Tosora masih menyimpan cukup banyak penanda untuk membantu orang membaca masa lalu dengan lebih konkret. Nilai utamanya justru ada pada kesederhanaan itu: sebuah kampung tua yang tetap hidup, tetapi masih membawa sisa-sisa ingatan tentang kerajaan, agama, dan peradaban lokal yang pernah tumbuh di dalamnya.

Tentu saja, warisan seperti ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Tosora membutuhkan perhatian yang serius, bukan hanya sebagai bahan nostalgia, tetapi sebagai bagian dari pengetahuan sejarah Wajo. Masjid tua, makam kuno, dan jejak kawasan lama di Tosora akan mudah kehilangan makna jika hanya diperlakukan sebagai latar foto atau cerita singkat yang muncul sesekali. Padahal, dari ruang-ruang semacam inilah masyarakat bisa membaca kembali dari mana Wajo bertumbuh dan bagaimana warisan Bugis dirawat dalam bentuk yang paling nyata.

Pada akhirnya, Tosora bukan sekadar kampung tua yang kebetulan menyimpan bangunan lama. Ia adalah salah satu ruang penting tempat Wajo bisa membaca dirinya sendiri. Dari kawasan ini, jejak kerajaan, perkembangan Islam, dan warisan Bugis bertemu dalam satu lanskap yang masih bisa dikenali. Di tengah kampung yang tampak tenang itu, sejarah rupanya belum benar-benar pergi. Ia masih tinggal, menempel pada ruang, dan menunggu untuk dibaca kembali.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini